Kota Pariaman – Di Balairung Pendopo yang penuh kehangatan itu, pesan yang mengalir ternyata tak sesederhana temu kangen. Walikota Pariaman Yota Balad hadir bersama Wakil Wali Kota (Wawako) Mulyadi, menyatu di tengah keluarga besar Sikumbang. Membaur dalam tradisi, namun sekaligus menyampaikan arah masa depan sebuah kota.
Halal Bihalal kali ini terasa berbeda. Bukan sekadar tradisi tahunan yang diulang, melainkan momentum untuk “manjalin nan takurung”.
Membuka simpul yang lama terikat. Di tengah masyarakat Minangkabau, ikatan suku bukan hanya identitas, tapi juga kekuatan sosial yang mampu menggerakkan perubahan.
Di hadapan para tokoh dan keluarga besar, Yota Balad menegaskan realitas yang tak bisa ditutup-tutupi. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri.
Pariaman memang sedang berbenah. Pariwisata digenjot, infrastruktur dibangun, pendidikan diperkuat. Namun semua itu akan rapuh tanpa sokongan masyarakat dari akar. Menariknya, ia tak sekadar berbicara sebagai kepala daerah.
Ia menegaskan identitasnya, Sikumbang. Sebuah pengakuan yang bukan hanya personal, tetapi juga strategis. Pesan itu jelas. Kepemimpinan harus berakar, tidak tercerabut dari nilai adat dan silsilah.
Di titik inilah nada emosional mulai menguat. Ia mengingatkan generasi muda agar tak sekadar mengejar gelar dan karier, tetapi juga memahami asal-usulnya. Hormat kepada niniak mamak, peduli pada nagari. Nilai-nilai yang mulai terkikis di tengah arus modernisasi.
Namun, di balik kehangatan acara, terselip pesan yang lebih luas. Pentingnya menjaga toleransi. Menurut Yota Balad, stabilitas sosial bukan hanya slogan, melainkan fondasi pembangunan. Tanpa kerukunan, seluruh program hanya akan menjadi angka di atas kertas.
Acara itu pun ditutup dengan ajakan yang terdengar sederhana, namun sarat makna. Bergandengan tangan membangun kota. Pertanyaannya kini, apakah semangat kebersamaan ini akan benar-benar hidup di luar seremoni, atau hanya akan menguap bersama usainya acara? (mak).






