Pulang Pisau, fajarharapan.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi peningkatan gizi siswa, justru menuai kritik pedas saat Ramadan. Sejumlah wali murid di Kabupaten Pulang Pisau angkat suara. Mereka mempertanyakan kualitas menu hingga kejelasan penggunaan anggaran.
Pasalnya, paket yang dibawa pulang siswa dinilai jauh dari kata “bergizi maksimal”. Isinya? Roti kecil, sebiji pisang, dan satu butir telur.
Bagi sebagian orang tua, komposisi tersebut bukan hanya minim variasi, tapi juga memantik tanya besar: di mana letak standar gizinya? Apalagi program ini disebut-sebut memiliki alokasi anggaran yang tidak sedikit.
Tina, salah satu wali murid, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia menyebut menu tersebut terasa jauh dari ekspektasi program yang diklaim untuk menunjang asupan nutrisi anak, terlebih di bulan puasa.
“Kalau cuma begitu, rasanya kurang pantas disebut makanan bergizi. Dari rumah pun bisa lebih layak. Roti kecil, satu pisang, satu telur. Kalau dihitung-hitung, nilainya berapa? Sementara anggaran katanya sudah ditentukan,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Nada serupa datang dari orang tua lainnya. Mereka menilai, jika memang tersedia anggaran khusus, seharusnya menu disusun lebih serius dan terukur. Karbohidrat, protein, vitamin, hingga mineral seharusnya diperhitungkan secara proporsional—bukan sekadar paket sederhana yang terlihat asal cukup.
Ramadan memang mengubah pola makan anak. Namun justru di situlah pentingnya komposisi yang tepat, agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi meski jam makan terbatas.
Tak berhenti pada soal menu, sorotan juga mengarah pada transparansi. Wali murid mendesak adanya keterbukaan terkait standar gizi yang dipakai serta rincian anggaran per porsi. Mereka meminta pengawasan diperketat agar program ini tak sekadar menjadi formalitas tahunan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait mengenai standar penyusunan menu MBG selama Ramadan maupun besaran anggaran riil per siswa.
Program yang seharusnya menjadi solusi, kini justru menyisakan tanda tanya. Bergizi atau sekadar simbolis? Warga menunggu jawaban.(FJR)






