Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengingatkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Potensi kenaikan ini muncul akibat terganggunya pasokan minyak global jika Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi dunia, ditutup. Gangguan tersebut berisiko meningkatkan harga minyak mentah di pasar internasional, yang kemudian berdampak pada harga energi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
“Otomatis harga BBM akan naik, seperti yang terjadi saat perang Ukraina. Namun kali ini, suplai dari Amerika Serikat meningkat, dan OPEC juga menambah kapasitas produksinya,” ujar Airlangga saat ditemui di Jakarta, Senin.
Menurutnya, tekanan terhadap harga BBM masih bisa dikendalikan karena pasokan minyak dari Amerika Serikat meningkat, ditambah OPEC yang menambah kapasitas produksinya. Pemerintah juga telah menyiapkan langkah antisipasi dengan menjalin nota kesepahaman (MoU) untuk memperoleh pasokan minyak dari luar Timur Tengah.
Salah satu upaya konkret dilakukan oleh PT Pertamina (Persero), yang menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan energi asal AS, termasuk Chevron dan Exxon.
“Pemerintah sudah memiliki MoU untuk mendapatkan pasokan dari luar Timur Tengah. Misalnya, Pertamina sudah membuat MoU dengan Amerika, beberapa dengan Chevron, dengan Exxon, dan lainnya,” jelas Airlangga.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menutup Selat Hormuz pada Sabtu (28/2/2026). Pada hari yang sama, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap beberapa target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, yang menimbulkan kerusakan bangunan dan korban sipil.(des*)






