Sumbar  

Satu Tahun Kepemimpinan Mahyeldi–Vasko: Konsolidasi Ketahanan Sumbar di Tengah Krisis Bencana

Sumbar – Satu tahun kepemimpinan Gubernur Mahyeldi Ansharullah bersama Wakil Gubernur Vasko Ruseimy di Provinsi Sumatera Barat berlangsung dalam situasi yang tidak mudah. Sejak 2024 hingga 2025, Sumatera Barat menghadapi bencana beruntun dengan skala besar yang menewaskan ratusan orang, merusak infrastruktur utama, serta mengganggu konektivitas dan aktivitas ekonomi di hampir seluruh kabupaten dan kota.

Bencana yang terjadi secara berlapis tersebut menempatkan Sumatera Barat dalam kondisi compound shock, yakni guncangan berulang sebelum proses pemulihan sebelumnya benar-benar tuntas. Situasi ini berimplikasi langsung terhadap kapasitas fiskal daerah, stabilitas sosial, serta prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah.

Dalam konteks tersebut, refleksi satu tahun kepemimpinan Mahyeldi–Vasko lebih tepat dibaca sebagai fase stabilisasi sosial-ekonomi, bukan fase akselerasi pertumbuhan.

Data makro ekonomi tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat melambat menjadi 3,37 persen secara year on year. Dalam kondisi normal, angka ini dapat dimaknai sebagai pelemahan ekonomi. Namun, dalam konteks daerah yang dilanda bencana besar dan kerusakan infrastruktur, capaian tersebut menunjukkan daya tahan ekonomi yang relatif terjaga.

Wakil Gubernur Vasko Ruseimy dalam agenda peninjauan dan koordinasi pemulihan pascabencana di Sumatera Barat.
Menariknya, meskipun pertumbuhan ekonomi melambat, sejumlah indikator kesejahteraan justru membaik. Tingkat kemiskinan turun dari 5,42 persen pada 2024 menjadi 5,31 persen pada 2025. Capaian ini menempatkan Sumatera Barat sebagai salah satu dari delapan provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah di Indonesia, jauh di bawah rata-rata nasional. Jumlah penduduk miskin juga berkurang, meskipun garis kemiskinan mengalami kenaikan akibat inflasi harga pangan.

Daya beli masyarakat relatif terjaga, tercermin dari meningkatnya pengeluaran riil per kapita. Kondisi pasar kerja juga menunjukkan tren positif. Tingkat Pengangguran Terbuka menurun, jumlah penduduk bekerja meningkat, serta kualitas pekerjaan membaik dengan bertambahnya proporsi pekerja penuh dan formal. Distribusi pendapatan pun semakin merata, ditandai dengan membaiknya Gini Ratio menjadi 0,280. Di sisi kualitas sumber daya manusia, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 77,27, menempatkan Sumatera Barat di jajaran provinsi dengan capaian IPM terbaik nasional.

Namun, stabilitas sosial tersebut dibangun di atas tekanan fiskal yang tidak ringan. Bencana tahun 2024 dan 2025 meninggalkan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur yang sangat besar, mulai dari jalan dan jembatan, fasilitas pendidikan dan kesehatan, hingga permukiman masyarakat. Di sisi lain, ruang fiskal daerah terbatas, sementara belanja wajib dan mengikat tetap harus dipenuhi.

Gubernur Mahyeldi Ansharullah dalam agenda peninjauan dampak bencana di Sumatera Barat.
Kondisi ini menciptakan tekanan fiskal daerah yang serius. Pemerintah provinsi dituntut menjaga keseimbangan antara belanja tanggap darurat, pemulihan infrastruktur pascabencana, dan keberlanjutan program pembangunan rutin. Dalam situasi tersebut, percepatan penyusunan dokumen perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi langkah strategis untuk memperoleh dukungan anggaran dari pemerintah pusat.

Dari sisi kepemimpinan, Mahyeldi dinilai membawa pengalaman panjang dalam manajemen krisis kebencanaan. Pengalaman tersebut berpadu dengan gaya kepemimpinan Vasko yang dikenal aktif turun ke lapangan dan dekat dengan masyarakat. Kombinasi pengalaman dan energi ini menjadi ciri khas kepemimpinan Mahyeldi–Vasko dalam menghadapi situasi darurat dan krisis berulang.

Di tengah tekanan bencana, sejumlah program dan proyek strategis tetap berjalan. Pemerintah provinsi mendorong percepatan pembangunan Flyover Sitinjau Lauik sebagai simpul konektivitas vital, melanjutkan pembangunan Jalan Tol Padang–Sicincin sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional, merevitalisasi kawasan pesisir dan kampung nelayan, merehabilitasi jaringan irigasi pertanian, meningkatkan kualitas permukiman, serta memperluas akses energi dan listrik bagi masyarakat.

Gubernur Mahyeldi Ansharullah saat berada di lokasi bencana di Kabupaten Agam.
Secara keseluruhan, satu tahun kepemimpinan Mahyeldi–Vasko menunjukkan pendekatan pembangunan yang bersifat konsolidatif dan berorientasi jangka panjang.

Stabilitas sosial-ekonomi berhasil dijaga di tengah tekanan bencana berulang. Tantangan ke depan adalah memastikan fondasi stabilisasi tersebut menjadi pijakan menuju fase transformasi, agar pemulihan tidak berhenti pada perbaikan fisik semata, tetapi mendorong Sumatera Barat bangkit lebih tangguh, inklusif, dan berdaya saing.( Adpsb/Adf )