Dari Puing ke “Istana”, Rumah Baru untuk Ibu Beyok dan Dua Putranya di Lareh Nan Panjang Barat

Foto bersama.
Foto bersama.

Padang Pariaman – Di Nagari Lareh Nan Panjang Barat, kata-kata mungkin jarang terdengar dari Ibu Beyok.

Namun, tatapan matanya yang penuh cerita mampu menyampaikan segalanya. Hari itu, ia menatap bukan lagi puing-puing rumahnya, melainkan sebuah rumah baru yang layak disebut “istana” untuknya dan kedua putranya, Udin dan Irat.

Kenangan pahit akhir Desember 2025 masih membekas. Hujan deras yang memicu bencana hidrometeorologi tak hanya membawa air dan lumpur, tetapi juga merobohkan sebuah pohon jengkol besar tepat di atas rumah mereka.

Akibatnya, ruang tamu dan kamar depan mereka hancur, meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga yang seluruh anggotanya penyandang disabilitas ini.

Bagi keluarga yang hidup dengan keterbatasan, membangun kembali rumah bukan sekadar soal biaya, melainkan tantangan besar yang nyaris terasa mustahil. Melihat situasi tersebut, warga sekitar bergerak cepat. Kabar tentang kondisi keluarga ini sampai ke Ketua TP-PKK Padang Pariaman, Ny. Nita Azis.

Nita pun turun tangan langsung. Ia tak hanya melihat tembok yang retak, tetapi juga menyadari kerentanan keluarga ini yang membutuhkan perhatian.

Dengan dukungan jejaring sosial dari Jakarta, Bandung, hingga Sumatera Barat, gerakan kemanusiaan pun digelorakan. Dana hampir Rp80 juta berhasil dikumpulkan—bukti nyata bahwa kepedulian tidak mengenal jarak.

Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, saat meresmikan rumah baru tersebut, menyampaikan pesan penuh haru. Baginya, kisah Ibu Beyok menjadi pengingat bahwa negara harus hadir bagi warga yang paling rentan.

“Tidak boleh ada warga yang merasa sendiri saat menghadapi musibah, terutama saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan,” ujar Bupati.

Kini, rumah itu berdiri kokoh. Bukan sekadar beton dan cat baru, tetapi simbol martabat dan perlindungan bagi Ibu Beyok, Udin, dan Irat. Di sana, mereka tak lagi khawatir akan hujan yang merembes atau pohon yang tumbang.

Di bawah atap yang aman, Ibu Beyok bisa kembali menenun mimpi sederhana: menyaksikan anak-anaknya tumbuh dengan aman dan nyaman. Meski tanpa suara, rasa syukur yang terpancar dari keluarga ini sehangat sinar matahari yang menembus jendela rumah baru mereka.(des*)