Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sedang mempertimbangkan kebijakan penghentian ekspor timah dalam beberapa tahun mendatang sebagai langkah memperkuat perekonomian nasional.
Menurut Bahlil, praktik ekspor bahan mentah perlu diganti dengan pengolahan di dalam negeri agar Indonesia memperoleh nilai tambah yang lebih besar. Ia mencontohkan kebijakan larangan ekspor bijih nikel pada 2018–2019 yang mampu mendorong peningkatan ekspor produk nikel hingga sekitar sepuluh kali lipat pada periode 2023–2024.
Ia juga mengungkapkan bahwa setelah pelarangan ekspor bauksit tahun lalu, pemerintah berencana meninjau kebijakan serupa pada komoditas lain, termasuk timah. Pemerintah mendorong para pelaku usaha untuk menanamkan investasi pada sektor hilirisasi di dalam negeri, bukan lagi mengandalkan penjualan bahan mentah ke luar negeri.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional tahun 2026 dengan total nilai investasi mencapai Rp618 triliun. Proyek tersebut mencakup berbagai sektor strategis seperti pengolahan bauksit, nikel, gasifikasi batu bara, hingga pembangunan kilang minyak, yang ditargetkan mulai berjalan tahun ini.
Hasil dari program hilirisasi diharapkan mampu menggantikan produk impor melalui pemanfaatan pasar domestik. Bahlil pun mengajak investor dalam negeri, termasuk lembaga perbankan, untuk berperan aktif membiayai proyek-proyek strategis tersebut agar manfaat nilai tambah tidak didominasi pihak asing.
Dalam proyeksi jangka panjang hingga 2040, program hilirisasi diperkirakan menarik investasi sekitar USD618 miliar. Dari jumlah itu, sekitar USD498,4 miliar berasal dari sektor mineral dan batu bara, sementara USD68,3 miliar dari minyak dan gas. Selain itu, hilirisasi diprediksi menghasilkan nilai ekspor hingga USD857,9 miliar, kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar USD235,9 miliar, serta membuka lebih dari tiga juta lapangan kerja.
Program hilirisasi sendiri menjadi salah satu agenda utama pemerintahan Presiden Prabowo untuk mendorong transformasi struktur ekonomi Indonesia, yang dinilai Bahlil sebagai motor penting pertumbuhan ekonomi nasional.(BY)






