Qasidah Rebana Klasik Bergaung Kuat, Hertati Taher : Bangun Karakter Religius Generasi Belia Pariaman

Kota Pariaman – Sorak tepuk tangan menggulung halaman Kantor Camat Pariaman Selatan, Kota Pariaman, Sumatera Barat, Kamis siang (12/2/2026), saat Festival Qasidah Rebana Klasik tingkat SD/MI se-Kota Pariaman resmi ditutup.

Tiga hari pelaksanaan festival sejak Selasa lalu bukan sekadar perlombaan seni religi, tetapi menjadi panggung pembuktian bahwa denyut syiar Islam masih bergaung kuat di kalangan generasi belia.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya digital yang kerap menyeret perhatian anak-anak pada layar gawai, dentuman rebana justru tampil sebagai simbol perlawanan budaya.

Kepala Disdikpora Kota Pariaman, Hertati Taher, yang menutup kegiatan mewakili Wali Kota Pariaman, menegaskan bahwa festival ini bukan hanya seremonial, melainkan bagian dari strategi membangun karakter religius generasi muda.

Hertati menuturkan, kegiatan tersebut selaras dengan visi besar pembangunan sumber daya manusia Kota Pariaman melalui program Risalah (Beriman, Saleh, dan Berakhlak).

Ia menilai qasidah rebana bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan medium pendidikan moral yang menanamkan nilai spiritual sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Minangkabau.

Namun di balik gemerlap panggung dan harmonisasi suara vokal para peserta, terselip harapan besar agar kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata.

Hertati mendorong seluruh kepala sekolah SD/MI agar menjadikan pembinaan seni religi sebagai gerakan berkelanjutan, bahkan membuka peluang festival serupa menembus level provinsi hingga nasional.

Ketua K3S Pariaman Selatan, Afdhal Fuady, mengakui penyelenggaraan perdana festival ini masih menyisakan sejumlah keterbatasan.

Ia secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada peserta dan sekolah, namun menegaskan panitia telah berupaya maksimal menghadirkan kompetisi yang objektif dengan menghadirkan dewan juri dari tim seleksi penilai Qasidah Rebana Nasional.

Persaingan ketat antarsekolah menghadirkan kualitas penampilan yang memukau penonton. SDN 04 Batang Tajongkek berhasil menyabet gelar juara pertama sekaligus meraih predikat instrumen terbaik dan kostum terbaik.

Posisi juara kedua diraih SDN 05 Kampung Pondok, sementara SDN 05 Tungkal Utara menempati posisi ketiga dengan penampilan yang tak kalah memikat.

Festival ini juga melahirkan talenta-talenta baru yang menjanjikan. SDN 06 Punggung Lading dinobatkan sebagai juara favorit, SDN 03 Naras Hilir meraih penghargaan vokal terbaik, sementara penghargaan harapan diraih SDN 08 Kampung Jawa I, SDN 01 Pauh Kurai Taji, dan SDN 08 Marunggi.

Dari panggung sederhana di Pariaman Selatan, semangat menjaga tradisi religi kini menyala. Menjadi pesan kuat bahwa masa depan generasi tidak hanya ditentukan kecanggihan teknologi, tetapi juga keteguhan akhlak dan identitas budaya.(mak).