Kota Pariaman – Sebanyak 100 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Pariaman, Sumatera Barat yang terdampak bencana hidrometeorologi mulai melihat secercah harapan. Di Aula Balaikota Pariaman, Senin (9/2/2026), mereka menerima bantuan kompor gas lengkap dengan tabung, isi gas, serta regulator, bersamaan dengan pelaksanaan program trauma healing.
Kolaborasi Pemerintah Kota Pariaman, Bank Indonesia, dan Kementerian UMKM RI itu menjadi langkah awal pemulihan ekonomi sekaligus penguatan mental para pelaku usaha yang terpukul pascabencana.
Bagi sebagian pelaku usaha, bantuan tersebut bukan sekadar alat produksi, tetapi simbol kepedulian negara terhadap nasib usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Banjir yang melanda sebelumnya telah memutus rantai produksi, merusak peralatan, bahkan memupus kepercayaan diri sebagian pelaku UMKM untuk bangkit kembali.
Melalui pendekatan pemulihan psikososial, pemerintah berupaya memastikan kebangkitan usaha dimulai dari pemulihan mental pelaku usahanya.
Kepala Bidang Peningkatan Peran Dunia Usaha, Industri, dan Dunia Pendidikan, Deputi Ekosistem Bisnis Wirausaha Kementerian UMKM RI, Rokhmat Rahantyo, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi langsung arahan Presiden RI, Prabowo Subianto.
Ia menekankan seluruh elemen harus turun tangan mengerahkan sumber daya guna membantu masyarakat terdampak bencana. Menurutnya, penanganan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan melalui kolaborasi lintas sektor yang solid.
Ia menyebut, tahap awal yang dilakukan adalah trauma healing sebagai upaya memulihkan mental pelaku usaha. Setelah itu, Kementerian UMKM RI akan melanjutkan dengan program “healing usaha” yang difokuskan pada pemulihan aktivitas ekonomi.
Pendampingan tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan pelaku UMKM, baik dalam peningkatan produksi, penguatan pemasaran, maupun akses pembiayaan usaha.
Sementara itu, Wali Kota Pariaman, Yota Balad, menegaskan bahwa bantuan ini bertujuan mempercepat pemulihan rantai produksi, khususnya sektor kuliner dan usaha rumah tangga yang sempat lumpuh akibat kerusakan alat produksi.
Ia menilai pemulihan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari penguatan kondisi psikologis pelaku usaha yang terdampak bencana.
Menurut Yota, trauma healing menjadi fondasi penting sebelum masuk ke tahap pemulihan bisnis yang lebih teknis. Pemerintah Kota Pariaman berkomitmen melanjutkan program asesmen dampak usaha, pemberian bantuan modal, serta pelatihan guna memperkuat daya saing UMKM.
Ia menegaskan bahwa ketahanan ekonomi daerah sangat bergantung pada kemampuan pelaku usaha kecil untuk bertahan dan berkembang.
Kehadiran Kepala Bidang Renbang Pendampingan Inovasi dan Keberlanjutan Usaha Deputi Ekosistem Bisnis Wirausaha Kementerian UMKM RI Keumala Dewi, Kepala Tim Implementasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Daerah Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat Lukman Hakim, serta Psikolog HIMPSI menambah bobot program tersebut.
Pemerintah Kota Pariaman pun mengajak pelaku UMKM memanfaatkan bantuan secara maksimal sebagai momentum kebangkitan, sembari menegaskan bahwa gotong royong lintas lembaga menjadi kunci untuk mengangkat kembali roda ekonomi masyarakat yang sempat terpuruk akibat bencana.(mak).






