Indonesia Tingkatkan Impor Produk Pertanian AS hingga USD 4,5 Miliar

Pertanian.
Pertanian.

Jakarta – Hubungan ekonomi antara Indonesia dan Amerika Serikat semakin diperkuat, terutama pada sektor pertanian. Melalui perundingan perjanjian perdagangan timbal balik yang bertujuan menyeimbangkan neraca dagang, Indonesia berencana meningkatkan impor produk pertanian dari AS sebagai bahan baku bagi industri dalam negeri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa pelaku usaha Indonesia menunjukkan minat besar untuk terus menjalin kerja sama perdagangan dengan Amerika Serikat. Kerja sama tersebut tidak hanya mencakup komoditas pangan dan pertanian, tetapi juga berbagai komoditas lainnya.

Dalam pertemuan bersama Under Secretary for Trade and Foreign Agricultural Affairs dari Departemen Pertanian AS (USDA), Luke J. Lindberg, serta delegasi eksportir produk pertanian AS di Jakarta pada awal pekan ini, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah menargetkan pembelian komoditas pertanian Amerika Serikat senilai sekitar USD 4,5 miliar.

Ia menilai kemajuan perjanjian perdagangan tersebut berpotensi membuka peluang investasi baru dari Amerika Serikat ke Indonesia. Investasi yang disertai modal dan teknologi dinilai sangat penting bagi penguatan sektor industri nasional.

Nota kesepahaman antara kedua negara mencakup lima komoditas utama, yakni kedelai, bungkil kedelai, gandum, kapas, dan jagung. Komoditas tersebut dibutuhkan sebagai bahan baku industri di Indonesia dan belum dapat diproduksi secara mencukupi di dalam negeri.

Berdasarkan informasi dari Kedutaan Besar AS, USDA menggelar misi dagang ke Jakarta untuk memperluas akses pasar, meningkatkan ekspor produk pertanian Amerika, serta memanfaatkan peluang baru yang muncul dari Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia–AS.

Kegiatan yang berlangsung pada 2–6 Februari 2026 ini dipimpin langsung oleh Luke J. Lindberg. Selama kunjungan, tim Foreign Agricultural Service (FAS) USDA bersama para pakar regional mengadakan pemaparan kondisi pasar, kunjungan lapangan, serta pertemuan business-to-business (B2B) dengan pembeli dari Indonesia, Malaysia, dan Timor-Leste.

Lindberg juga menyebut bahwa Presiden Trump bersama dirinya baru saja berdialog dengan kelompok petani di Iowa pada pekan sebelumnya. Dari pertemuan tersebut muncul kesimpulan mengenai pentingnya membangun kemitraan global yang kuat dan berkelanjutan. Ia menambahkan bahwa para petani AS menilai Indonesia sebagai salah satu pasar yang paling potensial untuk kerja sama jangka panjang.

Antusiasme tersebut tercermin dari kehadiran 21 perusahaan agribisnis, 20 organisasi kooperator yang mewakili berbagai segmen industri, serta enam departemen pertanian dari negara bagian di AS dalam pertemuan tersebut. Kerja sama sektor pertanian ini diharapkan memberikan manfaat bagi ketahanan pangan kedua negara, termasuk keberlanjutannya bagi generasi mendatang.

Menurut Lindberg, banyak perusahaan yang berharap kesepakatan serta transaksi konkret dapat segera terwujud melalui perjanjian baru ini, sekaligus membangun hubungan dagang jangka panjang antara penjual dan pembeli. Ia optimistis masa depan kerja sama pertanian kedua negara akan berkembang secara positif.(BY)