Puasa untuk Anak Bukan Soal Tahan Lapar Saja, Ini Penjelasan Psikolog

Mengenalkan puasa pada anak bukan sekadar melatih menahan lapar dan haus.
Mengenalkan puasa pada anak bukan sekadar melatih menahan lapar dan haus.

Jakarta – Mengajarkan anak untuk berpuasa tidak hanya berkaitan dengan menahan rasa lapar dan haus. Proses ini juga menyangkut kesiapan tubuh, kondisi emosional, serta pola pendampingan dari orang tua. Karena itu, metode yang digunakan tentu berbeda dengan pendekatan kepada orang dewasa.

Psikolog anak Mira Amir menjelaskan bahwa langkah paling awal justru berangkat dari sikap orang tua sendiri. Anak cenderung meniru perilaku yang ia lihat sehari-hari dibanding sekadar mendengar nasihat.

Ia menekankan pentingnya orang tua turut menjalankan puasa ketika mengajak anak melakukannya. Jika tidak, anak bisa merasa bingung dan sulit memahami makna ibadah tersebut secara menyeluruh.

Selain memberi teladan, penyesuaian dengan usia dan kondisi fisik anak juga perlu diperhatikan. Daya tahan anak belum sekuat orang dewasa, sehingga mereka tidak harus langsung menjalani puasa penuh sejak awal.

Pengenalan dapat dilakukan secara bertahap, misalnya dengan berpuasa setengah hari atau menunda makan dan minum selama beberapa jam. Cara ini membantu anak beradaptasi tanpa merasa terbebani.

Mira juga mengingatkan agar orang tua tidak menggunakan ancaman, tekanan, maupun rasa takut ketika mengajak anak berpuasa atau beribadah. Pendekatan seperti itu berpotensi menimbulkan kecemasan sehingga anak mengaitkan puasa dengan pengalaman negatif.

Sebaliknya, ia menyarankan pendekatan yang lebih hangat dan empatik. Saat anak mengeluh lelah atau mengantuk ketika sahur, orang tua sebaiknya memahami kondisi tersebut dan memberikan dukungan dengan tenang.

Anak pun perlu diyakinkan bahwa ia boleh mencoba berpuasa sesuai kemampuannya. Dengan begitu, puasa menjadi proses belajar yang menyenangkan, bukan kewajiban yang menekan.

Menurut Mira, tujuan utama memperkenalkan puasa kepada anak adalah menumbuhkan pemahaman dan kebiasaan secara perlahan. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat menjalani ibadah ini dengan kesadaran dan rasa nyaman, bukan karena paksaan.(BY)