Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan kabar terbaru terkait proses perundingan kerja sama dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat. Ia memastikan bahwa pembahasan utama dalam negosiasi tersebut pada dasarnya telah rampung dan kini memasuki tahap akhir berupa penyesuaian dokumen hukum.
Menurut Airlangga, proses yang masih berjalan saat ini hanya berkaitan dengan penyelarasan redaksional dan aspek legal. Setelah tahapan tersebut selesai, agenda berikutnya adalah penandatanganan kesepakatan yang waktunya akan disesuaikan dengan jadwal pertemuan Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Airlangga menyampaikan bahwa seluruh substansi pembicaraan dengan pihak Amerika Serikat telah disepakati. Pemerintah kini tinggal menunggu penentuan waktu yang tepat untuk mempertemukan kedua kepala negara guna meresmikan kesepakatan tersebut.
Meski demikian, Airlangga belum dapat mengungkap detail nilai investasi maupun manfaat ekonomi yang akan diperoleh Indonesia dari kerja sama ini. Ia menjelaskan bahwa kedua negara masih terikat oleh perjanjian kerahasiaan, sehingga informasi tersebut baru dapat dipublikasikan setelah penandatanganan resmi dilakukan.
Ia menambahkan, keterlambatan jadwal pertemuan dari rencana semula disebabkan oleh dinamika agenda internasional yang cukup padat. Salah satu faktor yang memengaruhi adalah adanya sejumlah kegiatan global penting, termasuk penandatanganan kesepakatan perdamaian dunia.
Airlangga juga menegaskan bahwa agenda perdamaian tersebut tidak memiliki kaitan langsung dengan perundingan tarif dagang Indonesia dan Amerika Serikat. Namun, ia mengakui bahwa isu perdamaian global saat ini menjadi fokus utama banyak negara.
Menurutnya, dalam berbagai forum internasional, termasuk pertemuan di Davos, pembahasan mengenai konflik global seperti perang di Ukraina dan Gaza menjadi topik dominan yang turut memengaruhi prioritas agenda para pemimpin dunia.
Hingga saat ini, pemerintah Indonesia masih menunggu kepastian waktu pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo dan Presiden Trump. Kesepakatan dagang ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kinerja perdagangan Indonesia, terutama di tengah ketidakpastian kebijakan tarif global yang masih berlangsung.(BY)






