Labura, Fajarharapan.id – Tangisan seorang bocah kelas 2 sekolah dasar mendadak memecah suasana di kawasan Perkebunan Padang Halaban, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Rabu (28/1/2026). Di tengah deru alat berat yang merobohkan rumah-rumah warga, bocah itu menangis histeris, memohon agar rumahnya tidak diratakan. Video momen tersebut viral di media sosial.
Dalam rekaman yang diunggah ke Facebook, terlihat sang bocah berdiri ketakutan, suaranya bergetar, sementara bangunan yang selama ini menjadi tempat tinggalnya perlahan runtuh. Tangisan itu menjadi potret pilu dari sebuah peristiwa eksekusi lahan yang tak hanya menyisakan puing, tetapi juga luka batin.
Di tengah kepedihan itu, hadir sosok polisi yang menyentuh hati banyak orang. Ia adalah Bripka Didik Irawan, personel Sat Sabhara Polres Labuhanbatu. Melihat sang bocah menangis tanpa henti, Bripka Didik segera menghampiri, memeluk, dan menggendongnya, berusaha menenangkan dengan tutur lembut.
Pelukan itu tak menghentikan eksekusi, tetapi berhasil meredam ketakutan seorang anak kecil.
“Kami hanya menjalankan tugas pengamanan. Arahan pimpinan jelas, kami harus humanis dan mengedepankan kemanusiaan,” ujar Bripka Didik.
Belakangan terungkap, Bripka Didik bukan sosok asing dalam kegiatan sosial. Ia dikenal sebagai polisi yang aktif berbagi dengan anak yatim dan warga kurang mampu. Bahkan, ia pernah menggalang dana hingga Rp2 miliar untuk pembangunan sebuah masjid di Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Rantau Selatan.
Sementara itu, Kapolres Labuhanbatu AKBP Wahyu Endrajaya menjelaskan bahwa pengamanan dilakukan dalam rangka pelaksanaan eksekusi lahan seluas 78 hektare berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Perkara tersebut melibatkan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) dan Kelompok Tani Padang Halaban dan Sekitarnya.
Kapolres menegaskan bahwa seluruh personel telah diinstruksikan untuk menjadikan pengamanan eksekusi sebagai misi kemanusiaan, tanpa kekerasan dalam bentuk apa pun.
“Tidak boleh ada kekerasan, baik verbal maupun fisik. Walaupun dimaki atau diprovokasi, anggota harus tetap menahan diri dan bersikap humanis,” tegasnya.
Dalam pelaksanaan di lapangan, sebagian warga menerima putusan pengadilan dan bersikap kooperatif. Beberapa di antaranya memilih membongkar rumah secara mandiri dan mengamankan barang-barang pribadi sebelum penertiban dilakukan.






