Sering Makan Sosis? Ini Risiko Kesehatan Jika Konsumsi Terlalu Banyak

Tak ada jumlah batas aman makan sosis per hari.
Tak ada jumlah batas aman makan sosis per hari.

JakartaSosis termasuk dalam kategori daging olahan yang sebenarnya tidak dianjurkan untuk dikonsumsi dalam jumlah besar. Jenis makanan ini kerap dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan jangka panjang, mulai dari gangguan jantung hingga kanker.

Meski tidak sepenuhnya dilarang, konsumsi sosis dan produk daging olahan lainnya sebaiknya dibatasi. Tujuannya jelas, yakni menjaga tubuh tetap sehat dan menurunkan risiko penyakit serius.

Lalu, berapa banyak sosis yang masih tergolong aman dimakan dalam sehari? Apakah menghabiskan empat buah sosis dalam satu hari termasuk berlebihan?

Apakah empat sosis sehari terlalu banyak?

Mengonsumsi empat sosis dalam sehari dapat dikategorikan sebagai kebiasaan yang berlebihan. Umumnya, satu buah sosis memiliki berat sekitar 20–70 gram, tergantung ukuran dan jenisnya.

Berdasarkan laporan Science Daily, penelitian dari University of Zurich menemukan bahwa konsumsi daging olahan lebih dari 40 gram per hari sudah berhubungan dengan peningkatan risiko kematian. Dengan kata lain, satu sosis saja sebenarnya sudah melewati batas yang disarankan, apalagi jika sampai empat buah.

Studi yang dilakukan pada 2013 tersebut melibatkan sekitar 450 ribu orang. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap tambahan 50 gram daging olahan per hari dapat meningkatkan risiko kematian hingga 18 persen.

Mereka yang rutin mengonsumsi produk seperti sosis, salami, dan ham memiliki peluang lebih besar meninggal akibat penyakit kardiovaskular maupun kanker. Hal ini disebabkan oleh terbentuknya senyawa karsinogenik, seperti nitrosamin, selama proses pengolahan daging, mulai dari pengasinan, pengasapan, hingga pengawetan.

Tak hanya itu, daging olahan juga mengandung kolesterol dan lemak jenuh dalam jumlah tinggi, yang berperan dalam meningkatnya risiko penyakit jantung.

Penelitian tersebut juga mencatat bahwa orang yang gemar makan daging olahan cenderung memiliki gaya hidup kurang sehat, seperti pola makan buruk, konsumsi alkohol lebih tinggi, dan kebiasaan merokok. Meski faktor-faktor ini telah diperhitungkan, hasilnya tetap menunjukkan bahwa konsumsi daging olahan di atas 40 gram per hari berkaitan dengan risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengonsumsi kurang dari 20 gram per hari.

Berapa batas aman makan sosis?

World Cancer Research Fund International (WCRF) menyarankan agar konsumsi daging merah dibatasi maksimal tiga porsi per minggu, atau sekitar 350–500 gram berat matang. Untuk daging olahan, tidak ada angka pasti, tetapi lembaga ini menganjurkan agar konsumsinya sangat dibatasi, bahkan bila memungkinkan dihindari.

Penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal Nature Medicine pada Juni 2025 menegaskan bahwa sebenarnya tidak ada jumlah yang benar-benar aman untuk daging olahan.

Penulis utama studi tersebut, Dr. Demewoz Haile, menyatakan bahwa kebiasaan mengonsumsi daging olahan, minuman manis, dan lemak trans—bahkan dalam porsi kecil—berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung iskemik, serta kanker kolorektal.

Data penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang mengonsumsi satu hot dog setiap hari berisiko mengalami diabetes tipe 2 meningkat hingga 11 persen, dan kanker kolorektal naik sekitar 7 persen dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsinya sama sekali.

Menanggapi hal tersebut, Nita Forouhi dari Universitas Cambridge menegaskan bahwa tidak ada “ambang aman” dalam mengonsumsi daging olahan.

Menurutnya, untuk memperoleh manfaat kesehatan, masyarakat sebaiknya menghindari atau setidaknya sangat membatasi konsumsi daging olahan, minuman manis, serta lemak trans hasil produksi industri.

Sosis memang praktis dan menggugah selera. Namun, jika dikonsumsi terlalu sering, risikonya bagi kesehatan tidak bisa dianggap sepele. Tidak ada batas pasti yang benar-benar aman, karena bahkan jumlah kecil pun dapat meningkatkan peluang terkena penyakit serius.

Karena itu, bersikaplah bijak dalam menikmati sosis dan produk daging olahan lainnya dengan mengurangi frekuensi serta porsinya.(BY)