Padang – Resor Konservasi Wilayah II Maninjau, yang berada di bawah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat, mencatat 24 kasus konflik antara satwa liar dan manusia sepanjang tahun 2025.
Kepala Resor Konservasi Wilayah II BKSDA Sumbar, Ade Putra, menjelaskan bahwa konflik tersebut tersebar di Kecamatan Palupuh, Palembayan, Ampek Koto, Matur, Lubuk Basung, dan Ampek Nagari.
“Dari 24 kasus itu, 21 melibatkan harimau sumatera dan tiga kasus melibatkan beruang madu,” ujarnya di Lubuk Basung, Kamis.
Penanganan konflik dilakukan melalui penurunan tim dari Resor Konservasi Wilayah II Maninjau dan Patroli Anak Nagari (Pagari). Harimau sumatera diketahui memangsa ternak warga, yaitu empat sapi atau kerbau dan sembilan anjing. Sementara beruang madu kerap memasuki pemukiman serta lahan perkebunan, memakan buah kelapa, nangka, dan hasil kebun lainnya.
Ade Putra menambahkan, pihaknya berhasil mengevakuasi dua individu harimau sumatera yang mengalami cacat. Satwa pertama ditemukan di Nagari Tiga Balai, Kecamatan Matur, pada 11 Maret, sedangkan satwa kedua terkena jerat babi di Koto Tabang, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, pada 22 November.
Menurutnya, konflik ini sebagian besar disebabkan oleh kondisi fisik harimau yang cacat sehingga kesulitan berburu di alam. Selain itu, harimau yang sedang merawat anaknya juga menjadi lebih rawan berinteraksi dengan manusia.
Ade Putra mengimbau masyarakat untuk tidak memasang jerat babi di perkebunan karena dapat membahayakan satwa liar. Warga juga dianjurkan untuk tidak menggembalakan ternak di pinggir kawasan hutan, memasang api-apian di sekitar kandang, menghindari pergi ke kebun sendirian, serta membatasi aktivitas di jam 16.00–08.00 WIB.
“Kami terus menyampaikan imbauan ini setiap kali bertemu dengan masyarakat di lapangan,” tuturnya.(des*)






