193 Tahun Padang Pariaman Tanpa Euforia, Bangkit dari Luka Banjir Besar 2026

193 Tahun Padang Pariaman Tanpa Euforia! Daerah Memilih Bangkit dari Luka Banjir
193 Tahun Padang Pariaman Tanpa Euforia! Daerah Memilih Bangkit dari Luka Banjir
Padang Pariaman – Di tengah duka banjir yang belum sepenuhnya surut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Padang Pariaman, Sumatera Barat menandai Hari Jadi ke-193 dengan cara yang sarat makna. Tidak ada pesta rakyat, tidak ada panggung hiburan. Tahun ini, Padang Pariaman memilih hening, empati, dan solidaritas sebagai bahasa peringatan.

Kesederhanaan ini bukan sekadar pilihan teknis, melainkan sikap moral. Pemerintah daerah menempatkan diri sejajar dengan masyarakat yang masih berjuang memulihkan rumah, sawah, dan harapan akibat bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah.

Puncak peringatan akan digelar melalui Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Padang Pariaman pada 11 Januari 2026 di Hall Ibu Kota Kabupaten (IKK) Parik Malintang. Agenda ini menjadi satu-satunya seremoni resmi. Bukan untuk bersuka cita, tetapi untuk merenung dan meneguhkan arah kebangkitan daerah.

Alih-alih perayaan, pemerintah menghadirkan aksi nyata. Donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, serta pameran produk UMKM lokal digelar di halaman Kantor Bupati. Bantuan khusus juga disalurkan kepada pelaku UMKM terdampak bencana, sebagai ikhtiar menjaga denyut ekonomi rakyat agar tidak ikut tenggelam.

Rangkaian kepedulian telah dimulai sejak awal Januari. Bakti sosial dan gotong royong di SDN 17 Batang Anai, sekolah yang terdampak banjir, menjadi pesan tegas: negara hadir, terutama untuk melindungi masa depan pendidikan anak-anak.

Semangat kebersamaan terus dirawat melalui gotong royong massal di kawasan IKK Parik Malintang pada 7 Januari 2026, melibatkan seluruh perangkat daerah. Para ASN turun langsung, tanpa seremoni, menyatu dengan masyarakat, membersihkan, memperbaiki, dan memulai kembali.

Dimensi spiritual pun menjadi sandaran. Tabligh akbar dan istighosah bersama digelar Jumat, 9 Januari 2026, di Masjid Raya IKK Parik Malintang. Doa dipanjatkan agar bencana segera berlalu, korban diberi kekuatan, dan Padang Pariaman bangkit dengan ketangguhan baru.

Sekretaris Daerah Kabupaten Padang Pariaman, Rudy Repenaldi Rilis, menegaskan bahwa peringatan tahun ini sengaja dirancang tanpa kemeriahan.

“Ini bukan waktu untuk berpesta. Ini saatnya empati, kebersamaan, dan kerja nyata. Hari Jadi ke-193 kami maknai sebagai momentum memperkuat tekad untuk bangkit,” tegasnya, didampingi Ketua Panitia Zahirman.

Mengusung tema “Bangkit Lebih Cepat Menuju Padang Pariaman Tangguh,” peringatan ini menjadi seruan kolektif agar daerah tidak larut dalam duka.

Bangkit Lebih Cepat berarti bergerak responsif, mempercepat pemulihan, dan menghidupkan kembali sendi sosial-ekonomi masyarakat. Sementara Padang Pariaman Tangguh adalah cita-cita membangun daerah yang kuat, adaptif, dan siap menghadapi bencana di masa depan.

Di usia 193 tahun, Padang Pariaman tidak merayakan kejayaan masa lalu. Daerah ini memilih menyembuhkan luka, menata ulang harapan, dan melangkah ke depan. Lebih sunyi, namun jauh lebih bermakna.(r-bay).