Tekno  

Benarkah Bumi Akan Punya 25 Jam? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Jakarta — Belakangan ini muncul unggahan di media sosial yang menyebut Bumi akan memiliki 25 jam dalam sehari, seolah-olah perubahan itu bakal terjadi dalam waktu dekat dan memengaruhi aktivitas manusia. Faktanya, klaim tersebut tidak sesuai dengan penjelasan ilmiah.

Para ilmuwan memang menemukan bahwa durasi satu hari di Bumi perlahan menjadi lebih panjang. Penyebab utamanya adalah interaksi antara gravitasi Bumi dan Bulan. Satelit alami Bumi itu terus menjauh sedikit demi sedikit, sehingga memengaruhi kecepatan rotasi planet kita.

Saat ini, Bulan berada sekitar 238 ribu mil dari Bumi dan membutuhkan hampir 27,3 hari untuk mengitari planet kita. Pengamatan menunjukkan Bulan menjauh sekitar 1,5 inci per tahun. Pergerakan ini berkaitan dengan fenomena pasang surut laut: tarikan gravitasi Bulan menciptakan “gesekan pasang surut” (tidal friction) yang perlahan mengurangi kecepatan putar Bumi.

Akibat proses tersebut, sebagian energi rotasi Bumi berpindah ke orbit Bulan. Hasilnya, Bumi berputar sedikit lebih lambat, sementara Bulan kian menjauh. Pengukuran modern memperlihatkan bahwa panjang hari hanya bertambah sekitar 1,7–2,4 milidetik setiap seratus tahun, ditambah variasi kecil akibat angin, pencairan es, hingga dinamika dalam mantel Bumi.

Jika tren ini diekstrapolasi jauh ke masa depan, tambahan hingga 25 jam per hari baru mungkin tercapai dalam kisaran ratusan juta tahun — kira-kira sekitar 200 juta tahun. Artinya, perubahan tersebut tidak akan terjadi dalam masa hidup manusia, bahkan tidak dalam beberapa generasi setelahnya.

Tambahan waktu yang terjadi sekarang begitu kecil sehingga hampir tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari. Sistem penanggalan modern pun memiliki mekanisme penyesuaian, seperti koordinasi waktu global (UTC) dan penyisipan leap second, untuk menyeimbangkan penyimpangan kecil pada rotasi Bumi.

Singkatnya, kabar bahwa Bumi “segera” akan memiliki 25 jam sehari adalah menyesatkan. Proses peregangan waktu ini nyata secara ilmiah, tetapi berlangsung sangat lambat — dan baru akan terasa dalam rentang waktu geologis, bukan dalam waktu dekat.(BY)