Jakarta – Persaingan pasar kendaraan listrik semakin panas, dan dua perusahaan besar asal Tiongkok, GAC Group serta Huawei, mengambil langkah strategis dengan memperkenalkan merek mobil listrik premium bernama Qijing.
Nama Qijing yang berarti “Alam Tercerahkan” ini digarap sebagai lini kendaraan kelas atas. GAC mendirikan perusahaan baru yang sepenuhnya fokus pada pengembangan merek ini, memastikan proyek tersebut bukan hanya inisiatif sementara. Seluruh sumber daya terbaik dialokasikan untuk menjamin keberhasilan Qijing di pasar global.
Huawei sendiri tidak hanya berperan sebagai penyedia perangkat lunak. Raksasa teknologi itu mengirimkan tim teknik terbaiknya untuk berkontribusi langsung. Setiap model Qijing akan dipasangi teknologi canggih Huawei, termasuk sistem kemudi pintar dan kokpit digital generasi terbaru bernama Qiankun.
Sejak lama Huawei menegaskan tidak berniat membuat mobil sendiri, melainkan mendukung pabrikan otomotif dengan tiga model kerja sama:
Pemasok komponen,
Skema Huawei Inside yang menyajikan paket teknologi pintar lengkap,
Model Zhixuan yang melibatkan Huawei dalam desain hingga pemasaran kendaraan.
Qijing hadir sebagai bentuk kolaborasi baru, di mana GAC tetap menjadi pengendali penuh merek dan produknya, sementara Huawei menyediakan teknologi mutakhir. Skema ini dianggap sebagai solusi bagi kekhawatiran produsen mobil yang takut kehilangan identitas merek ketika bekerja sama dengan perusahaan teknologi.
Kedua perusahaan sebelumnya pernah merencanakan produksi mobil otonom Level 4 pada 2024, namun rencana itu dibatalkan. Pada November 2024, mereka menandatangani kemitraan baru dengan mendirikan perusahaan proyek bernama GH yang memiliki modal terdaftar RMB 1,5 miliar atau sekitar Rp3,51 triliun.
Meski merek Qijing sudah diperkenalkan, mobil pertamanya baru akan meluncur pada 2026. Kolaborasi ini menjadi ajang pembuktian bagi GAC dan Huawei dalam menggabungkan teknologi pintar dengan produksi kendaraan kelas dunia.(BY)






