Sampit, fajarharapan.id – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mengimbau seluruh pengendara angkutan berat agar menyesuaikan tonase muatan saat melintas di jembatan darurat Sei Lenggana, Jalan Jenderal Sudirman Km 21 Sampit. Hal ini penting untuk mencegah kerusakan yang bisa berujung pada kemacetan panjang.
Pelaksana Tugas Kepala Dishub Kotim, Raihansyah, mengatakan pihaknya bersama Satlantas Polres Kotim sudah berulang kali mengingatkan perusahaan angkutan maupun sopir truk agar memperkirakan beban muatan ketika melewati jembatan tersebut.
“Kami tidak ingin jembatan darurat ini ambruk karena tidak mampu menahan beban berlebih. Jika itu terjadi, arus lalu lintas Trans Kalimantan akan lumpuh,” ujarnya di Sampit, Sabtu (23/8).
Jembatan Sei Lenggana saat ini masih dalam tahap perbaikan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalteng. Sambil menunggu jembatan utama selesai dibangun, arus kendaraan dialihkan melalui jembatan darurat di sisi bangunan lama. Namun, kondisi jembatan sementara itu sudah dua kali mengalami kerusakan sehingga menimbulkan antrean kendaraan mengular.
Menurut Raihansyah, kerusakan terjadi karena tanah di sekitar jembatan berupa gambut dan labil, ditambah lantai jembatan yang sifatnya sementara. Jika dilewati angkutan dengan muatan berlebihan, risiko kerusakan semakin besar.
Sebagai langkah darurat, ketika terjadi kemacetan total, arus kendaraan dialihkan ke jalan alternatif yang melewati areal perkebunan kelapa sawit. Jalur tersebut masuk di Km 18 dari arah Sampit dan keluar di Km 29 menuju Pangkalan Bun. Namun, jalur ini tidak bisa selalu dibuka karena menyangkut izin perusahaan pemilik lahan serta risiko kebakaran jika lalu lintas padat melintasi kawasan itu.
“Jalan alternatif hanya dibuka jika terjadi kemacetan parah. Kalau Jalan Sudirman masih bisa digunakan, jalur itu tetap ditutup,” tegasnya.
Dishub bersama Dinas PUPR juga sudah meminta kontraktor memperkuat jembatan darurat agar tidak mudah rusak. Meski begitu, peran pengguna jalan tetap sangat penting untuk menjaga kondisi jembatan hingga jembatan utama rampung.
“Kami minta pengemudi truk lebih disiplin menyesuaikan muatan. Kalau jembatan darurat ini rusak lagi, dampaknya bukan hanya sopir angkutan, tapi semua masyarakat yang melintas,” pungkas Raihansyah.(Av/M)






