BMKG: Gempa Poso Tak Picu Tsunami, Waspada Gempa Susulan

Warga kabupaten Poso, Sulawesi Tengah mengungsi di lapangan sepak bola usai terjadi gempa bumi
Warga kabupaten Poso, Sulawesi Tengah mengungsi di lapangan sepak bola usai terjadi gempa bumi

JakartaGempa bumi bermagnitudo 6,0 yang mengguncang wilayah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada Kamis malam (24/7), memaksa ribuan warga mengungsi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa sedikitnya 2.011 jiwa dari 609 kepala keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka demi keselamatan.

“Ini adalah data sementara yang kami peroleh dari lapangan,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (25/7).

Selain pengungsian massal, gempa juga menyebabkan empat warga mengalami luka ringan dan kini tengah menjalani perawatan. Sementara itu, kerusakan bangunan dilaporkan cukup signifikan, dengan total 35 rumah terdampak—14 di antaranya rusak berat dan 21 lainnya mengalami kerusakan ringan.

Tak hanya permukiman, gempa turut merusak sejumlah fasilitas umum. Satu bangunan sekolah dan satu rumah ibadah dilaporkan mengalami kerusakan ringan. Wilayah terdampak tersebar di tiga desa, yakni Tokilo dan Tindoli di Kecamatan Pamona Tenggara, serta Pendolo di Kecamatan Pamona Selatan.

“Tim kami masih terus melakukan pendataan di lokasi terdampak,” tambah Abdul.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa gempa terjadi pukul 20.06 WIB, dengan pusat gempa berada di darat, tepatnya di wilayah Kabupaten Poso, pada kedalaman 10 kilometer. Lokasi gempa berada pada koordinat 2,01° Lintang Selatan dan 120,78° Bujur Timur.

BMKG mengidentifikasi gempa ini sebagai gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas Sesar Poso, dengan mekanisme pergerakan geser (strike-slip). Usai gempa utama, hingga kini telah terjadi sedikitnya 11 gempa susulan, dengan magnitudo berkisar antara 2,4 hingga 5,5.

Guncangan gempa terasa cukup kuat di sejumlah wilayah. Di Poso, Kolonodale, dan Mangkutana, intensitas mencapai skala IV–V MMI, yang berarti guncangan dirasakan oleh hampir seluruh penduduk. Sementara di Palopo, Toraja, Mappadeceng, dan Bungku, tercatat intensitas III–IV MMI, dan di Kota Palu, guncangan dirasakan pada skala II–III MMI.

BMKG menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami dan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang serta tidak terpengaruh oleh informasi yang belum dipastikan kebenarannya.(des*)