Sport  

Semen Padang Hancurkan Harapan Persebaya, Kirim PSIS ke Jurang Degradasi Liga 1

Semen Padang Tahan Persebaya, PSIS Resmi Terdegradasi dari Liga 1.
Semen Padang Tahan Persebaya, PSIS Resmi Terdegradasi dari Liga 1

Surabaya, fajarharapan.id Semen Padang FC tampil bak tembok kokoh di Gelora Bung Tomo, Minggu (11/5/2025) malam. Bermain dengan semangat tak kenal lelah, Kabau Sirah sukses menahan imbang tuan rumah Persebaya Surabaya 1-1 dalam lanjutan Liga 1 2025. Hasil krusial ini tak hanya memperpanjang nafas Semen Padang di papan bawah, tapi juga memastikan satu tim tersungkur ke jurang degradasi: PSIS Semarang.

Dalam atmosfer stadion yang bergemuruh, Semen Padang FC datang tanpa rasa gentar. Di hadapan ribuan Bonek Mania, mereka justru tampil lebih rapi dan tenang di awal laga. Tim asuhan Eduardo Almeida memainkan strategi pragmatis: bertahan rapat dan menyerang cepat. Strategi itu terbukti ampuh saat Cornelius Stewart membuka keunggulan bagi tim tamu di menit ke-35. Penyerang asal Saint Vincent and the Grenadines itu lolos dari pengawalan dan menaklukkan kiper Ernando Ari dalam situasi satu lawan satu.

Gol tersebut memukul mental Persebaya. Tuan rumah butuh waktu untuk kembali mengatur ritme permainan mereka. Meskipun sempat menguasai jalannya pertandingan dengan 64 persen ball possession, serangan demi serangan anak asuh Paul Munster kerap terbentur lini belakang Semen Padang yang tampil disiplin.

Paruh pertama berakhir dengan keunggulan Semen Padang. Di babak kedua, Persebaya tampil lebih agresif. Pergerakan Bruno dan Flavio Silva mulai merepotkan pertahanan lawan. Tekanan demi tekanan akhirnya berbuah hasil. Di menit ke-64, Bruno mencetak gol penyeimbang usai menerima umpan pendek di dalam kotak penalti dan melepas tembakan datar yang tak mampu dihalau Arthur.

Namun cerita tak berhenti di situ. Puncak ketegangan terjadi di menit ke-87. Persebaya sempat mencetak gol kedua melalui sepakan keras Dejan Tumbas. Stadion sontak bergemuruh, tetapi euforia itu hanya bertahan sejenak. Wasit Adham Makhadmeh asal UEA memutuskan meninjau tayangan VAR. Hasilnya: gol dianulir karena Tumbas berada dalam posisi offside sebelum menerima umpan. Skor tetap 1-1 dan bertahan hingga akhir pertandingan.

Tambahan satu poin sangat berarti bagi Semen Padang. Dengan total 32 poin dari 32 pertandingan, mereka kini menempati posisi ke-15 klasemen dan berada di luar zona degradasi. Sementara itu, nasib nahas menimpa PSIS Semarang. Tim Mahesa Jenar yang kini mengoleksi 25 poin di posisi buncit, resmi terdegradasi karena secara matematis tak bisa mengejar perolehan poin Semen Padang, meskipun masih menyisakan dua laga.

Pelatih Semen Padang, Eduardo Almeida, mengapresiasi perjuangan anak asuhnya. “Kami bermain dengan semangat tinggi malam ini. Ini bukan laga mudah, karena Persebaya adalah tim kuat. Tapi para pemain saya tampil disiplin dan menunjukkan karakter. Kami belum selesai, tapi langkah ini sangat penting,” ujarnya dalam konferensi pers usai laga.

Performa lini pertahanan Semen Padang menjadi sorotan utama. Duet Martic dan Ariansyah tampil solid menahan gempuran serangan lawan. Di bawah mistar, Arthur menunjukkan refleks luar biasa dengan beberapa penyelamatan krusial, termasuk menepis peluang emas dari Malik Risaldi di awal babak kedua.

Sementara itu, pelatih Persebaya Paul Munster mengakui kekecewaannya atas hasil imbang ini. “Kami bermain menyerang dan menciptakan banyak peluang. Tapi ini sepak bola. Kadang bola tidak masuk, kadang keputusan kecil seperti offside bisa mengubah segalanya. Kami harus belajar dari ini,” katanya. Dengan hasil ini, Persebaya tertahan di posisi ketiga klasemen dengan 55 poin dari 32 pertandingan, gagal menyamai poin Dewa United yang berada di posisi kedua.

Bagi Semen Padang, satu poin ini ibarat oksigen di tengah tekanan degradasi. Mereka masih memiliki dua laga penentu menghadapi Arema FC dan Persita Tangerang. Tugas belum selesai, tapi mereka telah mengunci satu prestasi penting: bertahan lebih lama daripada PSIS Semarang.

Adapun PSIS kini menghadapi kenyataan pahit. Setelah sempat tampil mengejutkan di musim lalu, performa mereka musim ini terus menurun. Krisis konsistensi, pergantian pelatih, serta cedera pemain kunci membuat tim asal Semarang itu tak pernah benar-benar lepas dari zona merah. Kekalahan demi kekalahan menumpuk, dan akhirnya takdir berkata: PSIS harus turun kasta ke Liga 2.

Di sisi lain, keberhasilan Semen Padang mengamankan satu poin dari kandang lawan menjadi bukti bahwa semangat tak pernah kalah bisa menjadi kekuatan besar dalam sepak bola. Dalam situasi sulit, mereka justru tampil tenang dan mampu mencuri poin penting.

Dua laga tersisa menjadi ujian akhir bagi Kabau Sirah. Namun hasil di Surabaya memberikan sinyal kuat bahwa mereka siap bertarung hingga peluit terakhir musim ini. Jika mampu mempertahankan semangat dan disiplin seperti malam ini, Semen Padang sangat layak bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.(*)