Jakarta – Tahu dikenal sebagai salah satu sumber makanan bergizi yang mudah ditemukan dan memiliki rasa yang lezat. Namun, bagaimana jika tahu dikonsumsi setiap hari?
Simak uraian lengkap tentang manfaat serta potensi efek samping dari konsumsi tahu secara rutin.
Tahu merupakan hasil olahan dari kedelai yang diproses, menjadikannya sebagai salah satu sumber protein nabati unggulan. Dilansir dari Parade, tahu tidak hanya mengandung protein, tapi juga diperkaya dengan berbagai zat gizi seperti serat, kalsium, zat besi, magnesium, fosfor, kalium, hingga selenium.
Lebih dari itu, tahu juga kaya akan isoflavon—senyawa antioksidan yang memiliki peran penting dalam mengurangi peradangan dan menjaga kesehatan jantung.
Bolehkah mengonsumsi tahu setiap hari?
Secara umum, makan tahu setiap hari tergolong aman untuk kebanyakan orang. Meski demikian, beredar anggapan bahwa konsumsi rutin kedelai dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Namun, sejauh ini, para pakar belum menemukan bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung klaim tersebut. Justru sebaliknya, sejumlah studi menunjukkan bahwa konsumsi tahu secara teratur dapat membantu menurunkan risiko kanker payudara.
Seorang jurnalis dari The Healthy bahkan mencoba mengonsumsi tahu setiap hari dalam berbagai menu seperti orak-arik tahu saat sarapan, tumis tahu untuk makan siang, dan tahu goreng berbalut wijen sebagai santapan malam. Ia juga menjadikan camilan berbahan dasar tahu sebagai teman ngemil.
Setelah menjalani eksperimen tersebut, ia mengaku merasa kenyang lebih lama dan energinya meningkat. Efek ini kemungkinan besar berasal dari kandungan proteinnya yang tinggi, yang membantu mengontrol nafsu makan.
Beragam Manfaat Mengonsumsi Tahu Setiap Hari
Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa konsumsi tahu harian memberikan berbagai dampak positif bagi tubuh, berikut di antaranya menurut Healthline:
Menjaga Kesehatan Jantung
Produk kedelai seperti tahu terbukti mampu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL). Tinjauan pada 2019 menyebutkan bahwa protein kedelai dapat menurunkan LDL hingga 3-4 persen. Kombinasi isoflavon, protein, dan serat dalam tahu turut berkontribusi dalam menjaga kesehatan jantung. Bahkan meta-analisis 2023 menyimpulkan bahwa konsumsi kedelai berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung hingga 21 persen dan risiko diabetes sebesar 17 persen.
Mengurangi Risiko Kanker Tertentu
Beberapa penelitian juga mengaitkan konsumsi tahu dengan penurunan risiko berbagai jenis kanker, terutama kanker payudara. Riset pada 2019 menunjukkan bahwa wanita yang rutin mengonsumsi kedelai memiliki risiko 16 persen lebih rendah terkena kanker payudara. Risiko kanker lainnya seperti endometrium, lambung, prostat, dan usus besar juga dikabarkan menurun.
Menurunkan Risiko Diabetes
Kajian tahun 2020 menemukan bahwa orang yang rutin makan tahu cenderung memiliki risiko lebih kecil terhadap diabetes. Studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa penderita diabetes gestasional yang mengonsumsi kedelai selama enam minggu memiliki kadar gula darah lebih stabil dibandingkan kelompok yang tidak mengonsumsinya.
Menjaga Kesehatan Tulang
Isoflavon dalam kedelai diketahui membantu mengurangi pengeroposan tulang sekaligus meningkatkan kepadatan tulang. Ini menjadikan tahu sebagai pilihan tepat untuk menjaga kesehatan tulang dalam jangka panjang.
Meningkatkan Fungsi Otak
Penelitian juga menyebut bahwa isoflavon dapat memberi dampak positif terhadap kinerja otak, termasuk memori, konsentrasi, dan fungsi kognitif secara keseluruhan, terutama pada orang dewasa.
Efek Samping Makan Tahu Tiap Hari
Meski umumnya aman, konsumsi tahu setiap hari juga bisa menimbulkan beberapa efek samping, terutama pada kelompok tertentu:
Reaksi Alergi
Sebagian orang memiliki alergi terhadap kedelai, yang bisa memicu gejala seperti ruam, gatal, hingga sesak napas.
Gangguan Pencernaan
Tahu memiliki kandungan serat cukup tinggi. Bagi beberapa orang, ini dapat menyebabkan diare atau bahkan sembelit, tergantung pada sensitivitas sistem pencernaannya.
Pengaruh terhadap Fungsi Tiroid
Konsumsi tahu bisa memengaruhi fungsi tiroid, khususnya pada individu yang memiliki gangguan tiroid atau kekurangan yodium. Karena itu, penting untuk tetap memperhatikan asupan nutrisi lainnya agar tetap seimbang.(BY)






