Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia pada tahun 2024 sebagai ‘optimis dan waspada’. Tahun mendatang dianggap krusial bukan hanya karena menjadi tahun Pemilu dan transisi kepemimpinan, tetapi juga sebagai tahun pembentukan landasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Panjang (RPJMP) 2045 Menuju Indonesia Emas.
“Optimisme ini tidak hanya sebatas jargon belaka. Jika melihat tahun 2023, berbagai lembaga internasional meramalkan sebagai tahun yang gelap dengan proyeksi mengenai kondisi ekonomi negara-negara besar yang bahkan mungkin akan masuk dalam resesi,” jelas Sri
Dia merinci bahwa salah satu negara yang dihadapi ketidakpastian adalah Amerika Serikat (AS). Selama 15 bulan, suku bunga di negara-negara maju tersebut mengalami kenaikan yang sangat ekstrem. Terutama, suku bunga The Fed naik lebih dari 500 basis poin dalam kurun waktu kurang dari 12 bulan.
Kedua mesin ekonomi dunia ini mengalami perlambatan, namun, ada harapan untuk AS karena ketahanan ekonominya hingga akhir tahun ini.
Dalam melihat konstelasi perekonomian dunia, ekonomi-ekonomi terbesar menghadapi persoalan struktural dan terpapar oleh kebijakan, seperti kenaikan suku bunga.
“Kita perlu berhati-hati dan waspada. Untuk tetap optimis, kita perlu mencari alasan, mungkin dari sisi domestik, permintaan dalam negeri, dan konsumsi. Meskipun ekspor mengalami pertumbuhan negatif tahun ini,” sambung Sri.
Bukan hanya itu, impor Indonesia juga mengalami penurunan. Namun, PMI manufaktur Indonesia tetap positif dibanding beberapa negara lain, meski ekspor dan impor Indonesia mengalami pertumbuhan negatif.
“Untuk tahun 2024, dengan situasi seperti ini, jika suku bunga tetap tinggi dan bertahan cukup lama, meskipun masih ada perdebatan mengenai ‘berapa lama?’, harapannya adalah penurunan suku bunga di paruh kedua tahun depan,” kata Sri.
Dia menyatakan bahwa hal ini memberikan harapan dan mengindikasikan bahwa guncangan terberat dari kenaikan suku bunga telah dilewati.
“Kita perlu melihat masalah-masalah fundamental, seperti penuaan populasi di China yang tidak dapat diatasi dengan kebijakan segera. Masalah properti dan NPL juga tidak dapat segera diatasi melalui restrukturisasi, dan hal itu tidak akan memberikan dampak yang segera terhadap pertumbuhan.
Selanjutnya, ia menyoroti masalah fragmentasi dan geopolitik yang dapat menyebabkan perekonomian global yang sangat tergantung menjadi semakin terfragmentasi.
“Ini membawa risiko downside. Oleh karena itu, kita harus menghadapi tahun 2024 dengan kondisi eksternal yang tidak bersahabat dan masalah-masalah fundamental,” pungkas Sri.(BY)






