Jakarta – Produktivitas jagung di Lampung menunjukkan hasil positif. Dalam panen raya yang berlangsung di daerah tersebut, hasil produksi tercatat sekitar 10 hingga 15 persen di atas rata-rata panen jagung setempat.
Capaian tersebut menjadi kabar baik bagi sektor pertanian yang saat ini menghadapi berbagai tekanan, terutama akibat perubahan iklim, cuaca yang sulit diprediksi, serta perbedaan kondisi lahan di setiap wilayah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memperkirakan El Niño dengan intensitas kuat dapat memicu periode kemarau yang lebih panjang di sejumlah daerah Indonesia hingga penghujung Oktober 2026. Situasi ini menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi karena dapat berdampak terhadap hasil berbagai tanaman pangan, termasuk jagung.
Jagung memiliki posisi penting dalam sistem pangan nasional. Komoditas ini tidak hanya dikonsumsi secara langsung, tetapi juga menjadi bahan utama industri pakan ternak. Dengan demikian, ketersediaan jagung turut berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat.
Pemerintah sendiri memasang sasaran produksi jagung pipilan kering sekitar 18 juta ton sepanjang 2026. Target tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong terwujudnya swasembada.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai peningkatan produksi jagung mempunyai dampak yang lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan pangan. Menurut dia, keberhasilan program tersebut juga dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi ekonomi dan sosial masyarakat.
Amran menjelaskan, swasembada jagung diharapkan mampu membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat sekaligus berkontribusi dalam mengurangi kemiskinan dan pengangguran.
Ia menilai peningkatan kesejahteraan melalui sektor pertanian dapat menjadi langkah pencegahan berbagai persoalan sosial sejak dari tingkat awal.
Pemerintah juga terus mendorong percepatan masa tanam dan peningkatan produktivitas guna mengejar target produksi nasional. Berdasarkan data yang disampaikan Amran, produksi jagung nasional sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai 16,11 juta ton.
Menurutnya, produksi pada semester pertama 2025 mengalami kenaikan hingga 20 persen dibandingkan periode sebelumnya. Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Presiden.
Panen jagung dalam rangka penguatan produksi nasional turut berlangsung di sejumlah sentra, di antaranya Lampung, Wonogiri, dan Tuban. Masing-masing daerah memiliki tantangan budidaya tersendiri, termasuk persoalan cuaca, perubahan iklim, dan karakteristik tanah.
Direktur PT Bayer Indonesia Andi Ilyas mengatakan tantangan yang muncul akibat perubahan iklim perlu diimbangi dengan pemanfaatan inovasi serta penerapan metode budidaya yang tepat.
Menurut Andi, peringatan Hari Tani Nasional menjadi kesempatan untuk memberikan penghargaan terhadap kontribusi petani dalam menjaga ketahanan pangan. Ia menilai inovasi yang dipadukan dengan teknik budidaya yang sesuai dapat membantu petani menghadapi perubahan kondisi cuaca sekaligus meningkatkan peluang memperoleh hasil produksi yang lebih optimal.
Sementara itu, Bayer Corn Seeds & Trait Lead Crop Science Indonesia Jawad Nasir menyebut hasil pemantauan di lapangan menunjukkan adanya potensi penggunaan varietas jagung DEKALB DK79C Kuat apabila dibarengi dengan penerapan agronomi yang tepat.
Ia mengatakan petani membutuhkan berbagai inovasi untuk menjaga produktivitas tanaman di tengah meningkatnya risiko El Niño dan kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem.
Bayer menjelaskan DEKALB DK79C Kuat dikembangkan dengan sejumlah karakteristik yang disesuaikan untuk kebutuhan budidaya jagung di Indonesia. Perusahaan mengklaim varietas tersebut dapat menghasilkan rendemen pipilan hingga 82 persen, memiliki batang yang lebih kuat, serta dapat dipanen dalam waktu sekitar 100 hari.
Tak hanya mengandalkan pemilihan varietas, kegiatan panen tersebut juga disertai pendampingan teknis dan penerapan metode budidaya yang dinilai sesuai dengan kondisi tanaman.
Upaya meningkatkan hasil produksi menjadi salah satu kunci dalam mengejar target jagung nasional. Ketika kebutuhan pangan terus meningkat dan kondisi iklim semakin sulit dipastikan, kombinasi teknologi, inovasi, serta praktik pertanian yang tepat menjadi bagian penting untuk mempertahankan produktivitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.(BY)







