Jakarta – Changan Group memperluas pengembangan teknologi kendaraan cerdas dengan memperkenalkan SDA Pilot, sistem bantuan pengemudi yang dirancang untuk memberikan pengalaman berkendara lebih aman, nyaman, dan praktis.
Teknologi tersebut merupakan bagian dari Advanced Driver Assistance System (ADAS) yang dikembangkan oleh tim internal Changan. SDA Pilot mengandalkan perpaduan sensor, perangkat komputasi, kecerdasan buatan (AI), serta teknologi large model agar kendaraan mampu membaca situasi di sekelilingnya dan memberikan respons berkendara yang lebih adaptif.
Chairman Changan Group, Zhu Huarong, mengatakan pengembangan teknologi tersebut didukung sumber daya manusia dan investasi riset yang besar.
Menurutnya, tim yang menangani teknologi intelligent driving Changan kini telah berkembang menjadi lebih dari 7.500 engineer. Perusahaan juga telah menggelontorkan investasi penelitian dan pengembangan (R&D) lebih dari 7,7 miliar Euro.
“Kami akan terus mendorong transformasi menuju kendaraan yang semakin cerdas sekaligus memperkuat kemampuan pengembangan teknologi secara mandiri,” ujar Zhu dalam keterangan pers, Jumat (11/9/2026).
Pengembangan teknologi berkendara cerdas Changan sendiri telah berlangsung sejak 2009. Dua tahun kemudian, perusahaan mulai mengembangkan prototipe sistem peringatan tabrakan dari arah depan dan peringatan ketika kendaraan keluar jalur.
Perjalanan tersebut berlanjut hingga 2018, saat Changan mulai memproduksi secara massal sistem IACC (Integrated Adaptive Cruise Control) Level 2.
Kemajuan berikutnya dicapai pada 20 Desember 2025. Saat itu, Changan memperoleh pelat nomor resmi pertama di China untuk kendaraan dengan kemampuan pengemudian otonom bersyarat Level 3.
President Changan Group, Zhao Fei, menyebut SDA Pilot merupakan hasil dari proses pengembangan teknologi yang telah dilakukan perusahaan selama bertahun-tahun.
Ia mengatakan riset intelligent driving Changan dimulai ketika teknologi tersebut masih banyak dikembangkan dalam lingkungan laboratorium di China.
“Berbagai pengalaman dan pembelajaran selama bertahun-tahun menjadi dasar dalam pengembangan SDA Pilot,” kata Zhao.
Tiga Level Teknologi
Changan membagi SDA Pilot ke dalam tiga pilihan teknologi, yakni Pro, Max, dan Ultra. Masing-masing tingkatan menawarkan kemampuan bantuan berkendara yang berbeda.
Sebagai versi paling tinggi, SDA Pilot Ultra dibekali sejumlah kemampuan, antara lain Highway NCA, Urban NCA, serta sistem bantuan parkir cerdas yang dapat menangani lebih dari 400 skenario.
Teknologi tersebut juga dilengkapi 31 fungsi keselamatan aktif. Dari sisi kemampuan komputasi, sistem ini menggunakan chip dengan kapasitas mencapai 560 TOPS dan sensor LiDAR 256-line.
Kombinasi perangkat tersebut memungkinkan kendaraan mengolah informasi yang diperoleh dari lingkungan sekitar dengan waktu respons hingga hitungan milidetik.
Mengandalkan LiDAR dan AI
Dalam pengoperasiannya, SDA Pilot memanfaatkan LiDAR aktif sebagai salah satu perangkat utama untuk membaca kondisi di sekitar kendaraan.
Sensor tersebut mampu melakukan pemindaian dengan frekuensi hingga 10Hz. Kemampuan ini ditujukan untuk membantu sistem mendeteksi perubahan kondisi maupun potensi bahaya dengan lebih cepat.
Changan merancang sistem tersebut agar tetap dapat bekerja pada situasi yang tidak ideal, termasuk ketika pencahayaan rendah, terkena pantulan cahaya, hujan, maupun kabut.
Informasi yang dikumpulkan berbagai sensor selanjutnya dikirim ke sistem komputasi untuk dianalisis sebelum kendaraan menentukan tindakan yang dianggap sesuai.
Tidak hanya mengandalkan sensor, SDA Pilot juga menggunakan teknologi end-to-end large model. Sistem ini dilatih menggunakan lebih dari 20 juta segmen data perjalanan yang dikumpulkan dari kondisi berkendara nyata.
Kumpulan data tersebut digunakan untuk membantu kendaraan memahami berbagai situasi lalu lintas sekaligus menghasilkan pola respons yang lebih menyerupai perilaku pengemudi manusia.
Changan turut mengintegrasikan teknologi navigasi interaktif berbasis multimodal large model. Dengan pendekatan ini, sistem dapat memadukan informasi visual dan suara.
Pengguna pun dapat memberikan instruksi kepada kendaraan menggunakan bahasa percakapan sehari-hari. Sistem juga dirancang untuk mempelajari pola serta preferensi pengemudi sehingga interaksi antara manusia dan kendaraan dapat berlangsung secara lebih natural.
Diuji Ribuan Skenario
Sebelum digunakan pada kendaraan produksi, Changan melakukan serangkaian pengembangan dan pengujian melalui Changan SDA Lab. Fasilitas tersebut disiapkan khusus untuk menguji teknologi intelligent driving secara berkelanjutan selama 24 jam.
Dalam satu hari, fasilitas tersebut diklaim mampu menjalankan lebih dari 400.000 skenario simulasi virtual. Selain itu, simulasi perjalanan yang dilakukan dapat mencapai 3,3 juta kilometer per hari.
Pengujian juga mencakup beragam karakteristik iklim yang mewakili 224 wilayah di berbagai negara.
Melalui kombinasi pengujian virtual, laboratorium, hingga kondisi jalan nyata, Changan berupaya menemukan berbagai kemungkinan risiko sebelum teknologi dipasang pada kendaraan yang dipasarkan kepada konsumen.
Pendekatan tersebut ditujukan untuk memastikan sistem bantuan berkendara dapat beroperasi secara aman dan stabil dalam beragam kondisi penggunaan.
Bersamaan dengan pengenalan SDA Pilot, Changan Nevo Q06 juga mulai memasuki tahap pre-order. Model tersebut menjadi kendaraan produksi pertama Changan yang mendapatkan teknologi SDA Pilot Ultra.
Peluncuran Nevo Q06 sekaligus menandai upaya Changan memperluas penerapan teknologi berkendara cerdas pada kendaraan produksi massal. Kehadiran sistem tersebut memberikan tambahan pilihan teknologi keselamatan dan bantuan berkendara bagi konsumen.
Ke depan, Changan menyatakan akan melanjutkan pengembangan teknologi intelligent driving melalui berbagai kerja sama dan kemitraan strategis di sejumlah negara.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk menciptakan sistem mobilitas yang semakin pintar sekaligus mendukung aspek keselamatan, kenyamanan, dan keberlanjutan.(BY)







