Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan Kamis (30/7/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah 38 poin atau sekitar 0,21 persen ke posisi Rp18.111 per dolar AS.
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari faktor global, ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap Iran menyusul serangan rudal yang ditujukan ke pangkalan militer AS di Yordania.
Menurut Ibrahim, Amerika Serikat bersama Arab Saudi juga melancarkan serangan terhadap kelompok paramiliter yang didukung Iran di Irak. Keterlibatan Arab Saudi dalam operasi tersebut menjadi perhatian karena merupakan kali pertama negara itu secara terbuka bergabung dalam serangan udara bersama AS sebagai respons atas serangan drone yang menyasar fasilitas minyak Saudi.
Di sisi lain, Komando Pusat AS melaporkan bahwa Washington melakukan operasi militer selama sekitar dua jam terhadap Iran pada Rabu. Langkah tersebut mengakhiri penghentian sementara serangan yang telah berlangsung sejak akhir pekan.
Konflik yang terus memanas turut berdampak pada jalur distribusi energi global. Iran dilaporkan menutup jalur pelayaran strategis yang sebelumnya menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia setelah pecahnya perang antara AS dan Israel pada 28 Februari.
Situasi semakin rumit setelah kelompok Houthi di Yaman, yang bersekutu dengan Iran, memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi di kawasan Laut Merah sejak 20 Juli. Kebijakan tersebut mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, meski sejumlah pengiriman, terutama yang berkaitan dengan Tiongkok, masih tetap berlangsung.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Sentral AS (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Namun, keputusan itu tidak diambil secara bulat karena tiga anggota Federal Open Market Committee (FOMC) menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Tiga pejabat yang menyuarakan pandangan berbeda tersebut yakni Beth Hammack dari Cleveland Fed, Neel Kashkari dari Minneapolis Fed, dan Lorie Logan dari Dallas Fed.
Sementara itu, Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan kondisi pasar yang lebih ketat telah membantu proses pengendalian inflasi. Meski demikian, ia menegaskan bank sentral siap mengambil langkah lanjutan apabila tekanan inflasi kembali meningkat.
Dari dalam negeri, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 diperkirakan hanya berada di kisaran 4,8 hingga 4,9 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen.
Perlambatan ekonomi dipicu oleh meningkatnya biaya produksi akibat gejolak global, kebijakan moneter yang lebih ketat, serta ketidakpastian terkait pengelolaan fiskal nasional.
Untuk sepanjang tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan berada pada kisaran 4,9 hingga 5,1 persen, masih di bawah sasaran pemerintah sebesar 5,4 persen.
Pelaku pasar juga terus mencermati ketidakpastian terkait pergantian kepemimpinan Bank Indonesia setelah Perry Warjito mengundurkan diri. Selain itu, perhatian tertuju pada tekanan fiskal di daerah, hambatan ekspor mineral, serta sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pekan depan, seperti inflasi Juli, neraca perdagangan Mei, cadangan devisa, produk domestik bruto (PDB) kuartal II, dan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK).
Berdasarkan perkembangan tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan cenderung fluktuatif dengan potensi melemah di kisaran Rp18.110 hingga Rp18.160 per dolar AS.(BY)







