Washington, fajarharapan.id – Per Februari 2026, ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan memasuki fase paling kritis dalam beberapa tahun terakhir. Ancaman aksi militer terbuka kian mengemuka setelah pemerintahan Presiden Donald Trump disebut telah menyiagakan kekuatan tempur besar di kawasan Timur Tengah sebagai bentuk tekanan langsung terhadap program nuklir Teheran.
Langkah militer ini dinilai sebagai eskalasi signifikan dalam dinamika hubungan kedua negara yang sejak lama diwarnai konflik terbuka maupun proksi. Washington menegaskan bahwa pengerahan kekuatan tersebut bertujuan memberikan sinyal tegas agar Iran segera kembali ke meja perundingan dan menyepakati pembatasan program nuklirnya.
Sumber pertahanan AS menyebutkan, dua kapal induk telah ditempatkan di kawasan Teluk. Salah satunya adalah USS Gerald R. Ford, kapal induk tercanggih milik Angkatan Laut AS yang dilengkapi sistem peluncur elektromagnetik dan teknologi tempur mutakhir. Selain itu, armada pesawat pengebom siluman B-2 Spirit serta jet tempur F-35 juga dilaporkan berada dalam posisi siaga tempur di pangkalan-pangkalan strategis sekitar Iran.
Kehadiran pesawat pengebom B-2 Spirit menjadi perhatian utama karena kemampuan silumannya yang dirancang untuk menembus sistem pertahanan udara canggih dan menghantam target bernilai tinggi, termasuk fasilitas bawah tanah. Sementara F-35, dengan kemampuan multi-role dan sistem sensor terintegrasi, dinilai mampu memberikan dominasi udara penuh dalam skenario konflik terbuka.
Di sisi diplomasi, Presiden Trump disebut memberikan tenggat waktu sekitar 10 hari, hingga akhir Februari 2026, kepada Iran untuk mencapai kesepakatan baru terkait pembatasan program nuklirnya. Jika tidak ada kemajuan signifikan, opsi serangan militer dikabarkan akan diaktifkan. Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait detail rencana tersebut, namun sejumlah pejabat pertahanan menegaskan bahwa “semua opsi ada di atas meja.”
Target potensial yang disebut-sebut menjadi sasaran jika diplomasi gagal adalah fasilitas nuklir Iran yang terkubur dalam tanah serta markas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). IRGC selama ini dipandang Washington sebagai aktor kunci dalam pengembangan program rudal balistik Iran dan jaringan proksi militer di kawasan Timur Tengah.
Menanggapi ancaman tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menyatakan bahwa negaranya siap memberikan balasan keras terhadap setiap bentuk agresi. Dalam pidatonya di Teheran, Khamenei menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas Iran akan dibalas dengan serangan terhadap pangkalan militer AS di kawasan, termasuk yang berada di Teluk Persia dan negara-negara sekutu Washington.
Iran juga dilaporkan telah meningkatkan kesiapan sistem pertahanan udaranya serta memindahkan sebagian aset strategis ke lokasi yang lebih aman. Sumber intelijen regional menyebutkan bahwa Teheran mengaktifkan jaringan milisi proksi di Irak, Suriah, dan Lebanon sebagai bagian dari strategi pencegahan berlapis.
Dinamika geopolitik turut memperkeruh situasi. Inggris dilaporkan menolak memberikan izin penggunaan pangkalan militernya untuk mendukung operasi serangan AS terhadap Iran. Sementara itu, Rusia disebut-sebut memperkuat kerja sama militernya dengan Teheran, termasuk dalam bentuk dukungan sistem persenjataan rudal dan teknologi pertahanan udara.
Pengamat hubungan internasional menilai, eskalasi ini berpotensi memicu konflik regional berskala besar jika tidak segera diredam. Jalur perairan strategis seperti Selat Hormuz—yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia—dapat terdampak langsung apabila konfrontasi militer pecah.
Pasar energi global pun mulai menunjukkan gejolak, dengan harga minyak mentah bergerak naik di tengah kekhawatiran terganggunya pasokan dari kawasan Teluk. Negara-negara di Timur Tengah dilaporkan meningkatkan status siaga keamanan, mengantisipasi kemungkinan serangan balasan atau aksi sabotase.
Hingga kini, peluang diplomasi masih terbuka, meski ruangnya semakin sempit. Dunia internasional menanti apakah tenggat waktu yang diberikan Washington akan menghasilkan kesepakatan baru atau justru menjadi pemicu konflik bersenjata terbuka yang dapat mengubah lanskap geopolitik global secara drastis.(*)






