Padang, fajarharapan.id — Pemulihan layanan air bersih di Kota Padang memasuki fase akhir. Setelah dua bulan berjibaku dengan dampak bencana hidrometeorologi, cakupan distribusi kini nyaris kembali seperti sediakala. Manajemen mencatat lebih dari 99 persen pelanggan sudah kembali menikmati aliran air secara normal.
Namun, pekerjaan rumah belum sepenuhnya selesai. Persoalan baru muncul di hulu, yakni pendangkalan sungai akibat endapan lumpur pascabanjir. Ketika curah hujan mulai berkurang dan musim kemarau datang, volume air baku yang masuk ke instalasi pengolahan ikut menyusut.
Kondisi tersebut memengaruhi kinerja sejumlah instalasi milik Perumda Air Minum Kota Padang. Beberapa titik intake mengalami penurunan debit produksi karena aliran sungai tidak sebesar biasanya.
Humas Perumda AM Padang, Adhie Zein kepada awak media, Rabu (11/2/2026) menjelaskan, fenomena ini merupakan kombinasi antara sedimentasi dan faktor musiman. Menurutnya, endapan material yang terbawa banjir sebelumnya membuat kapasitas sungai menurun, sehingga saat kemarau debit lebih cepat berkurang.
Instalasi yang terdampak di antaranya IPA Pegambiran, Paraku, Latung, dan Lubuk Minturun. Meski begitu, curah hujan yang masih turun sesekali cukup membantu menjaga suplai tetap stabil sehingga gangguan ke pelanggan dapat ditekan seminimal mungkin.
Selain debit yang menyusut, peningkatan kekeruhan air baku juga menjadi tantangan tersendiri. Aktivitas normalisasi sungai dengan alat berat menyebabkan lumpur teraduk dan terbawa arus ke titik pengambilan air.
Akibatnya, proses pengolahan di instalasi harus dilakukan lebih intensif. Petugas menyesuaikan komposisi bahan kimia dan memperpanjang tahapan filtrasi agar air yang diproduksi tetap memenuhi standar kesehatan sebelum disalurkan ke masyarakat.
Secara umum, layanan sudah kembali normal di hampir seluruh wilayah kota. Hanya sekitar 0,3 persen pelanggan yang alirannya belum optimal. Untuk memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi, distribusi air melalui mobil tangki masih dijalankan.
Kawasan seperti Sisingamangaraja, Asrama Gantiang, Pancasila, dan Raya Kuranji menjadi prioritas suplai tangki. Penyaluran dilakukan terjadwal agar warga tetap memiliki akses air selama proses teknis penuntasan berlangsung.
Sebagai bentuk empati kepada pelanggan terdampak langsung bencana, Perumda AM Padang memberikan pembebasan tagihan air berikut retribusi sampah untuk periode Januari yang dibayarkan pada Februari 2026. Kebijakan ini ditujukan bagi pelanggan yang sempat tidak menerima aliran air pascabanjir.
Di sisi lain, optimalisasi intake yang sebelumnya difungsikan secara darurat terus dilakukan. Sistem diperkuat secara bertahap dengan pengawasan teknis ketat guna memastikan performa kembali seperti sebelum bencana.
Manajemen juga mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara hemat, terutama di tengah cuaca yang belum stabil. Warga dianjurkan menyiapkan cadangan air di rumah sebagai langkah antisipasi bila sewaktu-waktu terjadi gangguan sementara.
Dengan progres pemulihan yang hampir menyentuh 100 persen serta penguatan infrastruktur di sejumlah titik rawan, Perumda AM Padang optimistis suplai air akan kembali sepenuhnya stabil dalam waktu dekat, seiring membaiknya kondisi sumber air baku dan aliran sungai.(Ab)






