Ketua TP PKK Padang Pariaman Datang Tengah Luka Banjir Serahkan Bantuan dari Seruni

Padang Pariaman – Banjir boleh saja surut, tetapi luka warga belum tentu ikut mengering. Di Hunian Sementara (Huntara) Asam Pulau, Nagari Anduriang, Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat, deretan keluarga masih bertahan dalam ruang sempit, dengan dapur seadanya dan harapan yang kadang terasa menggantung.

Di titik inilah Ketua TP PKK Padang Pariaman, Ny.Nita Azis memilih hadir, bukan untuk berpidato panjang, melainkan membawa sesuatu yang sederhana namun sangat berarti: 34 unit magic com untuk ibu-ibu yang masih berjuang menanak harapan setiap hari.

Bagi sebagian orang, bantuan itu mungkin terlihat kecil. Namun bagi para ibu di Huntara, alat memasak itu adalah simbol bahwa mereka tidak dilupakan.

Di tengah keterbatasan listrik, ruang, dan bahan pangan, kemampuan menyiapkan makanan dengan layak adalah bentuk martabat yang dipertahankan.

Penyerahan bantuan dari Solidaritas Perempuan untuk Indonesia (Seruni) melalui TP PKK Kabupaten Padang Pariaman berlangsung tanpa gemerlap seremoni.

Tak ada panggung megah, hanya tatapan mata yang jujur dan genggaman tangan yang menguatkan. Ny.Nita Azis, didampingi jajaran OPD dan pengurus TP PKK, berdiri sejajar dengan warga. Bukan di atas mereka.

Namun agenda sosial itu tak berhenti di Asam Pulau. Rombongan bergerak ke Surantiah, Nagari Lubuak Aluang. Di sana, sebuah keluarga sedang bertarung dengan kenyataan pahit. Anak mereka menderita encephalitis.

Di tengah biaya pengobatan yang tak ringan, TP PKK menyerahkan peralatan memasak sebagai modal usaha kecil. Sebuah langkah konkret agar dapur tetap hidup dan roda ekonomi keluarga tidak sepenuhnya terhenti.

Baznas pun turun tangan, menyerahkan bantuan biaya pengobatan untuk Aisyah. Tangis haru pecah ketika bantuan itu diterima.

Di momen seperti itu, bantuan bukan lagi sekadar angka rupiah. Ia berubah menjadi harapan yang menyambung napas perjuangan.

Perjalanan dilanjutkan ke Nagari Sualayat, Kecamatan Ulakan Tapakih 29 warga terdampak banjir menerima bantuan. Di Kampuang Galapuang, 179 warga lainnya menyambut rombongan dengan wajah penuh cerita tentang air bah yang pernah merendam rumah mereka.

Bantuan diserahkan, tetapi yang lebih terasa adalah pesan bahwa pemerintah tidak menutup mata.

Langkah Ny. Nita Azis bersama TP PKK menjadi penegasan. Kerja kemanusiaan tidak boleh berhenti pada simpati. Ia harus turun ke lumpur, menyapa langsung mereka yang terdampak.

Di tengah kritik dan sorotan publik terhadap penanganan bencana, aksi nyata seperti inilah yang berbicara lebih keras daripada seribu janji.(bay).