Kobe, Permata Tersembunyi di Tengah Lonjakan Wisata Jepang

Kota Kobe di Jepang jadi destinasi yang underrated.
Kota Kobe di Jepang jadi destinasi yang underrated.

Jakarta – Lonjakan kunjungan wisatawan asing membuat Jepang menghadapi tekanan overtourism dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah turis internasional melonjak drastis dari sekitar 3,8 juta orang pada 2022 menjadi rekor 42,7 juta pengunjung pada 2025.

Kepadatan kini menjadi pemandangan umum di kota-kota tujuan utama seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka, baik di objek wisata maupun hotel. Di tengah ramainya arus turis tersebut, Kobe justru masih relatif luput dari perhatian, meski dikenal luas lewat kuliner wagyu premiumnya.

Padahal, kota pelabuhan terbesar keenam di Jepang itu memiliki akses sangat dekat—sekitar 25 menit dari Osaka dan 50 menit dari Kyoto menggunakan kereta. Secara historis, Kobe juga merupakan pelabuhan pertama yang dibuka bagi perdagangan internasional pada 1868, menjadikannya pintu penting hubungan Jepang dengan dunia luar.

Salah satu daya tarik utama kawasan ini adalah Arima Onsen, sumber pemandian air panas kuno yang mudah dijangkau dan kerap dipilih sebagai tempat beristirahat dari keramaian wilayah Kanto maupun Kansai. Di area ini berdiri ryokan bersejarah Tocen Goshoboh, penginapan yang telah ada sejak abad ke-12 dan dahulu menjadi tempat singgah samurai hingga keluarga kekaisaran.

Arima dikenal dengan air mineral kinsen atau “mata air emas” yang berwarna kecokelatan karena kandungan garam, kalsium, dan zat besi tinggi. Air tersebut dipercaya membantu meredakan kelelahan otot setelah perjalanan panjang. Selain itu, kawasan ini juga menyimpan tradisi geiko yang usianya bahkan lebih tua dibanding Kyoto, dan pertunjukannya masih bisa dinikmati di sejumlah kafe setempat.

Di pusat kota Kobe, pengalaman berjalan kaki menghadirkan nuansa multikultural, terutama di Distrik Kitano yang dipenuhi bangunan bergaya Barat seperti Weathercock House, Moegi House, Yamate Hachibankan, hingga Masjid Kobe yang merupakan masjid tertua di Jepang sejak 1935.

Untuk sentuhan spiritual Jepang kuno, wisatawan dapat mengunjungi Kuil Ikuta, kuil Shinto yang telah berdiri sejak abad ketiga dan populer sebagai tempat memanjatkan doa terkait hubungan asmara.

Sementara itu, destinasi harian seperti Himeji dapat dicapai hanya sekitar 15 menit dengan Shinkansen. Kota tersebut terkenal dengan kastel feodalnya yang megah dan terawat, salah satu yang terbaik di Jepang.

Perpaduan sejarah pelabuhan internasional, budaya tradisional, kuliner kelas dunia, onsen legendaris, serta suasana yang lebih tenang menjadikan Kobe alternatif menarik di tengah padatnya pariwisata Jepang. Namun, melihat pesonanya yang kian dikenal, bukan tidak mungkin kota ini segera masuk daftar tujuan utama wisatawan global.(BY)