134 CJH Kota Pariaman Tergabung Kloter 7 Embarkasi Haji Padang

Kota Pariaman – Pergerakan antrean panjang menuju Tanah Suci kembali membawa kabar bagi warga Kota Pariaman, Sumatera Barat. Tahun 1447 H/2026 M ini, sebanyak 134 Calon Jamaah Haji (CJH) dipastikan tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 7 Embarkasi Haji Padang, bersama rombongan jamaah dari Kota Bukittinggi dan Kota Padang.

Momentum ini bukan sekadar perjalanan ibadah, tetapi menjadi titik penentuan kesiapan spiritual dan fisik para tamu Allah tersebut.

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Pariaman, Syaiful Azmi, S.Ag., M.Pd, menegaskan bahwa seluruh CJH diwajibkan mengikuti rangkaian manasik haji secara menyeluruh.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan agenda formalitas tahunan, melainkan fondasi utama dalam membentuk pemahaman mendalam terkait prosesi ibadah haji.

“Manasik adalah benteng awal perlindungan jamaah agar mampu menjalankan ibadah secara benar dan aman,” tegas pria yang akrab disapa Ustadz Zet, yang dihubungi Wartawan fajarharapan.id, pada Sabtu (7/2/2026).

Sebagai tahapan awal, CJH akan mengikuti Manasik Gabungan Tingkat Kota Pariaman yang dijadwalkan berlangsung di Masjid Taqwa Muhammadiyah, Kelurahan Taratak, Kecamatan Pariaman Tengah, Minggu, 8 Februari 2026

Kegiatan ini menghadirkan pemateri berkompeten, termasuk Kakanwil Kemenhaj Sumatera Barat bersama sejumlah narasumber bersertifikat yang berpengalaman dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Tidak berhenti di tingkat kota, pembekalan juga dilanjutkan melalui manasik tingkat kecamatan selama empat hari, mulai 9 hingga 12 Februari 2026.

Jamaah dari Kecamatan Pariaman Tengah akan mengikuti pelatihan di Masjid Taqwa Muhammadiyah Taratak, sementara CJH dari Pariaman Utara, Pariaman Timur, dan Pariaman Selatan akan dipusatkan di Masjid Raya Mangguang.

Pembagian lokasi ini dirancang untuk memastikan efektivitas pembelajaran sekaligus memudahkan pengawasan.

Ustadz Zet menekankan pentingnya kesiapan istitha’ah atau kemampuan menyeluruh dalam berhaji, baik dari aspek mental, spiritual, maupun kondisi kesehatan.

Ia mengingatkan bahwa perjalanan haji menuntut ketahanan fisik tinggi serta kedisiplinan menjaga pola hidup sehat sejak jauh hari sebelum keberangkatan. Menurutnya, banyak kegagalan ibadah haji berawal dari kelalaian menjaga kesehatan.

Selain mengikuti manasik, seluruh CJH juga diwajibkan menjalani imunisasi serta pemantauan medis berkala. Langkah ini dinilai krusial untuk meminimalisasi risiko kesehatan selama berada di Arab Saudi.

“Pola makan, waktu istirahat, dan kedisiplinan menjaga kondisi tubuh menjadi penentu kelancaran ibadah para jamaah,” ujar Ustadz Zet mengingatkan.

Di sisi lain, pihak Kemenhaj Kota Pariaman terus menjalin koordinasi intensif dengan Pemerintah Kota Pariaman guna memastikan pelayanan jamaah berjalan maksimal.

Ustadz Zet menilai, kesuksesan pemberangkatan haji bukan hanya tanggung jawab penyelenggara, tetapi juga hasil sinergi lintas sektor.

Di balik angka keberangkatan tersebut, tersimpan harapan besar masyarakat Pariaman yang menaruh doa agar para jamaah pulang dengan predikat haji mabrur.(mak).