Jakarta – Seorang ahli sistem drone asal Kanada memperingatkan bahwa meningkatnya penggunaan kawanan drone murah oleh Iran bisa menjadi ancaman serius bagi aset angkatan laut Amerika Serikat, termasuk kelompok kapal induk. Peringatan ini muncul di tengah ketegangan yang terus meningkat antara Teheran dan Washington.
Cameron Chell, CEO dan salah satu pendiri perusahaan drone Dragonfly, menekankan bahwa ketergantungan Iran pada sistem tak berawak yang relatif terjangkau menciptakan bentuk peperangan asimetris yang efektif, mampu menantang platform militer modern.
Menurut Chell, kemampuan drone Iran — yang nilainya diperkirakan mencapai “puluhan juta dolar” — memungkinkan serangan saturasi menggunakan hulu ledak murah dan platform peluncuran sederhana. Taktik ini berpotensi melemahkan sistem pertahanan udara dan rudal konvensional.
Dragonfly, yang berbasis di Vancouver, mengembangkan teknologi drone untuk berbagai sektor, termasuk keselamatan publik, pertanian, inspeksi industri, dan pemetaan.
Chell menambahkan, Iran telah mengembangkan armada drone yang dirancang untuk melakukan serangan intensif dalam jumlah besar terhadap sistem militer canggih, yang menurutnya menjadi tantangan serius bagi pertahanan angkatan laut tradisional.
Selain itu, serangan rudal dan drone Iran terbukti mampu menembus sistem pertahanan seperti Iron Dome milik Israel, dengan beberapa kota penting mengalami kerusakan signifikan akibat serangan tersebut.(des*)






