Padang – Suasana Pangeran Beach Hotel Padang, Sabtu malam (24/1/2026), berubah menjadi ruang diskusi lintas negara. Presiden Ball Badminton ASEAN, Mr. Ravichandren Raman, duduk satu meja dengan pelatih, wasit, dan pemain internasional seperti Mr. Magesh Sekar serta Mr. Suresh Krishnaswamy dari India dan Malaysia. Bincang malam itu bukan sekadar seremonial, melainkan pemanasan serius bagi ekspansi Ball Badminton ke Indonesia.
Menariknya, Padang, Sumatera Barat dipilih sebagai pintu pertama sosialisasi olahraga ini di Tanah Air. Keputusan tersebut memantik perhatian, mengingat agenda berikutnya justru mengarah ke Bali pada 13–19 Februari 2026. Olahraga yang dibina Anggota DPR RI Cindy Monica Salsabila Setiawan, S.M ini tampak sengaja “mendarat” di luar poros utama olahraga nasional.
Presiden Ball Badminton ASEAN itu tak datang sendiri. Sejak penjemputan di Bandara Internasional Minangkabau hingga forum bincang malam, rombongan didampingi Ketua Umum PB BBSI Joe Aplinanda, Sekum Bay Kati, akademisi UNP Padang Dr. Ardo, serta Henddy Luthan dari KONI Sumbar yang juga Sekum Pengprov Cabang Olahraga Kabaddi Sumbar.
Agenda kunjungan berlanjut Minggu pagi (25/1/2026) dengan pertemuan strategis bersama para pemangku kepentingan olahraga dan pendidikan di Sumatera Barat. Nama-nama seperti Ketua Umum KONI Sumbar Hamdanus Bagido Rajo, Rektor UNP Prof. Dr. Ir. Krismadinata, hingga Wali Kota Padang Fadly Amran hadir dalam rangkaian silaturahmi yang sarat kepentingan pembinaan.
Di sisi lain, UNP Padang menjadi salah satu titik sentral pengembangan. Usai pertemuan, kegiatan langsung bergeser ke GOR FIK UNP Padang untuk sosialisasi perwasitan dan pelatih. Langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa Ball Badminton tak hanya ingin dikenal, tetapi juga ditanamkan secara sistematis.
Tak berhenti pada wacana, kunjungan tersebut juga diikuti penyerahan sarana olahraga. Sebanyak 15 set peralatan Ball Badminton diserahkan untuk UNP Padang, sementara 15 set lainnya dititipkan kepada PB BBSI guna mendukung agenda sosialisasi lanjutan di Bali. Distribusi ini dinilai sebagai investasi awal membangun ekosistem cabang olahraga baru.
Masuknya Ball Badminton lewat jalur diplomasi olahraga internasional ini memunculkan diskursus tersendiri. Di tengah dominasi cabang-cabang mapan, kehadiran olahraga asal Asia Selatan ini di Padang dianggap langkah berani. Bahkan kontroversial, yang bisa mengubah peta pembinaan olahraga alternatif di Indonesia.(bay/ajo).






