Makan Singkong Mentah Bisa Picu Keracunan dan Gangguan Saraf

Ilustrasi. Singkong dapat berisiko terhadap kesehatan apabila dikonsumsi mentah tanpa dimasak dulu. Simak bahaya mengonsumsi singkong yang masih mentah.
Ilustrasi. Singkong dapat berisiko terhadap kesehatan apabila dikonsumsi mentah tanpa dimasak dulu. Simak bahaya mengonsumsi singkong yang masih mentah.
JakartaSingkong dikenal luas sebagai bahan pangan murah, mudah ditemukan, dan kerap menjadi sumber energi bagi banyak keluarga di Indonesia. Umbi ini biasanya diolah atau dimakan mentah, namun ada dengan  cara  direbus, digoreng, dipanggang, hingga difermentasi — sebelum disajikan.

Meski demikian, singkong tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Di balik kandungan karbohidratnya, terdapat bahaya besar jika singkong dimakan mentah atau tidak diproses dengan benar. Pemahaman mengenai cara pengolahan yang aman menjadi penting agar manfaat singkong tetap bisa dinikmati tanpa menimbulkan masalah kesehatan.

Mengapa singkong mentah berbahaya?

Mengutip WebMD dan sejumlah referensi kesehatan, berikut berbagai risiko yang dapat muncul jika singkong dikonsumsi tanpa melalui pengolahan yang tepat.

1. Keracunan sianida

Singkong mentah mengandung senyawa linamarin. Di dalam tubuh, senyawa ini dapat berubah menjadi sianida — zat beracun yang berpotensi menyebabkan keracunan berat, bahkan kematian apabila dikonsumsi dalam jumlah tertentu.

2. Gangguan pada sistem saraf

Paparan sianida dalam jangka panjang dapat mengganggu saraf. Pada beberapa kasus, muncul kondisi neuropati yang ditandai dengan kesulitan berjalan, kelemahan otot, gangguan penglihatan, serta rasa kebas pada tangan dan kaki.

3. Risiko kelumpuhan

Menurut Medical News Today, konsumsi singkong mentah berlebihan — terutama pada anak-anak atau orang dengan asupan protein rendah — dapat berkaitan dengan kelumpuhan permanen pada bagian kaki. Kondisi ini lebih sering ditemukan di wilayah yang menjadikan singkong sebagai makanan pokok tanpa diimbangi sumber protein lain.

4. Masalah pada tiroid

Singkong dapat menghambat penyerapan yodium. Bila dikonsumsi mentah, risikonya meningkat, termasuk pembesaran kelenjar tiroid (gondok) dan gangguan fungsi tiroid, terutama pada mereka yang sudah kekurangan yodium.

5. Kekurangan gizi

Singkong rendah protein dan lemak. Jika dikonsumsi berlebihan tanpa lauk bergizi lain, status gizi seseorang bisa menurun — khususnya pada anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

6. Reaksi alergi

Sebagian orang sensitif terhadap singkong. Gejalanya bisa berupa gatal, ruam, hingga sesak napas. Individu dengan alergi lateks juga berpotensi mengalami reaksi silang saat mengonsumsi singkong.

7. Berisiko untuk ibu hamil dan menyusui

Mengonsumsi singkong yang tidak matang sempurna dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan janin, kontraksi rahim, hingga masalah tiroid pada bayi yang disusui.

Cara mengolah singkong agar aman

Untuk menurunkan kadar racun alami pada singkong, lakukan langkah-langkah berikut:

Kupas kulit luar hingga bersih

Potong menjadi bagian kecil

Rendam dalam air selama beberapa jam (bahkan hingga satu–dua hari untuk jenis singkong pahit)

Rebus sampai benar-benar matang

Buang air rebusannya sebelum dikonsumsi

Jenis singkong pahit membutuhkan proses lebih lama dibanding singkong manis karena kandungan sianidanya lebih tinggi. Sementara itu, produk turunan seperti tapioka dan tepung singkong umumnya lebih aman karena sudah melalui proses pengolahan panjang.

Singkatnya, singkong tetap bisa menjadi sumber pangan yang baik — asalkan diolah dengan benar. Mengabaikan proses pengolahan dapat memicu berbagai masalah kesehatan yang tidak bisa dianggap sepele. Pastikan selalu memasak singkong hingga matang agar manfaatnya maksimal dan risikonya minimal.(BY)