Agam, fajarharapan.id – Galodo susulan bisa saja mengancam kembali kawasan Pasar Maninjau, Kabupaten, Sumatera Barat (Sumbar). Hal itu ditemukan material ‘raksasa’ yang masih bertahan di hulu Batang Muaro Pisang, Jorong Pasa Maninjau, Nagari Maninjau.
Temuan tersebut diperoleh melalui pemantauan udara intensif, Sabtu (3/1/2026). Dari hasil pantauan, teridentifikasi endapan material skala besar di sekitar Kelok 42, kawasan hulu sungai yang menjadi titik krusial aliran galodo sebelumnya.
“Material di hulu masih sangat labil. Jika hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi, ancaman galodo susulan masih terbuka,” demikian pernyataan resmi BPBD Agam yang disampaikan melalui Diskominfo Agam, Minggu (4/1/2026).
BPBD Agam menjelaskan, material batu dan lumpur itu merupakan sisa hantaman debit sungai yang meningkat tajam pada Kamis (1/1/2026) sekitar pukul 16.20 WIB. Hingga kini, material tersebut dinilai belum stabil dan berpotensi kembali bergerak sewaktu-waktu.
Bupati Agam, Benni Warlis, menegaskan bahwa penanganan ancaman bencana tidak boleh dilakukan secara parsial. Menurutnya, pendekatan yang hanya berfokus di wilayah hilir berisiko gagal menekan potensi bencana jika kondisi hulu tidak ditangani secara serius.
Benni mengungkapkan, curah hujan tinggi yang berlangsung dalam durasi panjang telah membuat kondisi tanah di hulu sungai berada pada titik kejenuhan. Dalam situasi tersebut, getaran kecil saja sudah cukup untuk memicu longsoran yang berpotensi berubah menjadi galodo.
“Sungai sudah berpindah alur ke sisi lain. Artinya, rumah-rumah yang sebelumnya relatif aman kini ikut terancam,” tegas Benni.
Ia juga mengingatkan bahwa potensi bencana tetap ada meskipun hujan tidak turun di kawasan permukiman. Akumulasi cadangan air di hulu sungai dapat memicu galodo secara tiba-tiba tanpa tanda-tanda cuaca ekstrem di hilir.
Kondisi lapangan saat ini dinilai semakin mengkhawatirkan karena telah terjadi perubahan alur Batang Muaro Pisang. Pergeseran aliran sungai tersebut membuat zona ancaman meluas dan mengancam lebih banyak rumah warga di sepanjang bantaran.
Untuk memastikan langkah penanganan berbasis kajian ilmiah, Pemerintah Kabupaten Agam telah meminta dukungan teknis dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS). Tim teknis BWS telah turun ke lokasi guna melakukan pemetaan dan kajian menyeluruh dari hulu hingga hilir.
“Penanganan aliran sungai harus dilakukan dengan perhitungan yang tepat dan berdasarkan ilmu. Alhamdulillah, BWS sudah turun dan mulai menindaklanjuti,” tutup Bupati Agam.(*)






