Padang Pariaman – Hujan belum reda sepenuhnya, tanah masih labil, dan bau lumpur masih menyeruak di banyak sudut Padang Pariaman, Sumatera Barat. Di tengah kepiluan itu, Bupati John Kenedy Azis bersama Wabup Rahmat Hidayat memilih jalan paling berat. Menyisir satu per satu titik bencana dari selatan hingga utara, memastikan tak ada warga yang merasa ditinggalkan.
Musibah banjir dan longsor selama sepekan telah meluluhlantakkan hampir seluruh nagari. Bukan hanya selatan yang tenggelam lumpur, tetapi juga wilayah utara yang ikut terseret dalam gelombang bencana. Keseriusan itulah yang mendorong Bupati dan Wabup turun kembali ke lapangan, Rabu (3/12/2025), hanya sehari setelah menyelesaikan peninjauan di selatan.
Di Kampung Tarandam, Korong Piliang, banjir besar dari luapan Batang Gasan merusak lahan pertanian, menghanyutkan pagar sawah, hingga membelah tanah menjadi aliran sungai baru. Warga panik, tak tahu apakah air akan merangsek lebih jauh ke rumah mereka.
Kedatangan Bupati John Kenedy Azis dan Wabup Rahmat Hidayat membuat warga tersentak haru. Mereka tidak datang untuk sekadar melihat, tetapi juga membawa bantuan untuk 25 kepala keluarga yang paling terdampak.
“Warga harus kuat. Kami di sini bersama warga,” ucap Bupati, menepuk bahu salah seorang warga yang matanya masih sembab.
Rombongan lalu menuju Korong Duku, Nagari Pilubang, di mana longsor besar memutus akses selama beberapa hari. Jalan itu kini terbuka berkat operator alat berat yang bekerja sejak dini hari. Kerja sunyi yang sering tak terlihat publik.
Bupati John Kenedy Azis menghampiri para petugas yang wajahnya lusuh oleh lelah. “Tanpa petugaa, warga tetap terkurung. Terima kasih sudah berjuang,” ujarnya. Para petugas menahan haru, merasa kerja keras mereka akhirnya dihargai.
Di Nagari Sungai Sirah Kuranji Hulu, tepatnya Korong Dirian Tanjung Baringin, warga pernah terputus total dari dunia luar. Longsor menutup jalan, sinyal sulit, bantuan terhambat.
Kini material sudah dibersihkan, dan ketika Bupati tiba, warga menyambutnya dengan senyum bercampur rasa lega. “Baru sekarang kami bisa bernapas,” kata salah satu ibu yang rumahnya hampir terseret tebing.
Menjelang malam, rombongan tiba di Korong Kabun, Nagari Tiga Koto Aur Malintang Selatan. Jalan di sini amblas lebih dari 60 meter—luka baru yang membuat akses warga kembali terganggu.
Di lokasi ini, Bupati menyerahkan bantuan dari perantau Aur Malintang Selatan. Lampu kendaraan menjadi satu-satunya penerang saat proses peninjauan malam itu.
Perjalanan panjang dari pagi hingga malam itu bukan sekadar agenda kunjungan. Itu adalah pesan: Padang Pariaman tidak dibiarkan sendiri menghadapi bencana ini.
Selatan, tengah, utara. Semuanya diperhatikan, semuanya ditangani.
“Kami pastikan seluruh wilayah aman, tertangani, dan mendapat bantuan yang layak. Tidak ada satu pun daerah yang kami biarkan berjuang sendiri,” tegas Bupati John Kenedy Azis.
Di tengah desa-desa yang masih berair, tanah yang masih goyah, dan warga yang masih trauma, kehadiran pemimpin menjadi penguat. Padang Pariaman boleh diuji, tetapi tidak dibiarkan runtuh. Pemerintah, petugas, dan masyarakat berdiri bersama. Menjemput harapan baru setelah badai.(r-bay).






