Transisi Hijau Indonesia, Sinergi Pemerintah–Industri dalam Menghadapi Krisis Iklim

Pelaku Industri Percepat Transisi Hijau.
Pelaku Industri Percepat Transisi Hijau.

Jakarta – Dunia tengah menghadapi Triple Planetary Crisis yang meliputi perubahan iklim, berkurangnya keanekaragaman hayati, serta meningkatnya tingkat polusi. Ketiga isu ini menjadi ancaman serius yang menuntut tindakan bersama di tingkat global. Merespons kondisi tersebut, berbagai negara mulai memperketat regulasi lingkungan, mendorong percepatan transisi energi bersih dan langkah dekarbonisasi di sektor pemerintahan maupun industri.

Indonesia termasuk negara yang menunjukkan komitmen kuat dalam menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) guna mencapai target Net Zero Emission. Pemerintah menargetkan penurunan emisi hingga 93,5% serta peningkatan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup menjadi angka 83,0. Selaras dengan visi Indonesia Emas 2045, upaya mencapai Net Zero Emission pada 2060 terus dipercepat melalui strategi nasional yang lebih terarah.

Mendukung langkah tersebut, SCG kembali menegaskan perannya dalam proses dekarbonisasi nasional melalui gelaran ESG Symposium 2025 Indonesia. Dengan tema “Decarbonizing for Our Sustainable Tomorrow”, acara ini menjadi wadah kolaborasi bagi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, serta masyarakat untuk memperkuat pertumbuhan hijau dan pengembangan ekonomi sirkular.

President & CEO SCG, Thammasak Sethaudom, menyatakan bahwa pencapaian Net Zero 2060 hanya dapat terwujud melalui kerja sama lintas sektor.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah kita perlu bertindak, melainkan seberapa cepat dan seberapa kompak kita dapat bergerak. Transisi menuju ekonomi hijau harus bersifat inklusif dan memastikan tidak ada pihak yang tertinggal,” ujarnya.

1. Perubahan di Sektor Industri

Pandangan serupa disampaikan oleh Muhammad Taufiq, S.T., M.T., Sekretaris BSKJI Kementerian Perindustrian. Ia menegaskan bahwa modernisasi dan transformasi industri merupakan elemen penting dalam merealisasikan komitmen iklim nasional.

“Janji tidak akan berarti apa-apa apabila tidak dibarengi tindakan nyata di lapangan,” tegasnya.

2. Deklarasi Kolaborasi Menuju Masa Depan Berkelanjutan

Salah satu momentum penting dalam simposium ini adalah pelaksanaan Joint Declaration “Circular Future Collaboration and Commitment: Declaration for Greener Tomorrow”, yang melibatkan PT Semen Jawa, Pemerintah Kabupaten Sukabumi, mitra swasta, serta komunitas SCG Warrior Mentari. Deklarasi ini memperkuat kemitraan Public–Private–People Partnership (PPPP) untuk memperluas inisiatif keberlanjutan, menekan emisi, serta mengembangkan ekonomi sirkular di berbagai daerah.

Country Director SCG Indonesia, Warit Jintanawan, menekankan bahwa kolaborasi adalah kunci untuk mempercepat perubahan.

“Melalui PPPP, kami memadukan kebijakan publik, keunggulan industri, dan keterlibatan masyarakat untuk menciptakan dampak yang lebih nyata dan berskala luas,” ujarnya.(BY)