934 Warga Mengungsi, 25 Orang Masih Tertimbun di Banjarnegara

Ancaman longsor masih mengintai Desa Pandanarum, Banjarnegara
Ancaman longsor masih mengintai Desa Pandanarum, Banjarnegara

Jakarta – Ancaman longsor masih mengintai Desa Pandanarum, Banjarnegara. Hasil pemeriksaan tim ahli geologi menunjukkan adanya rekahan di bagian mahkota longsor yang membentuk pola tapal kuda, meningkatkan potensi longsor susulan.

Selain itu, keberadaan sumber mata air di sekitar lokasi semakin memperbesar risiko bencana. Guru Besar Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwikorita Karawati, menjelaskan bahwa tanah di wilayah tersebut didominasi oleh jenis blue clay, yaitu lempung berwarna biru keabu-abuan yang mudah melunak ketika terkena hujan. Kondisi ini membuat tanah berpotensi bergerak menjadi bidang luncur yang dapat memicu longsor kembali.

Dalam pengamatannya, Dwikorita menemukan rekahan baru serta sumber mata air yang cukup besar, memperkuat kemungkinan terjadinya longsor susulan. “Tanah di atas retak-retak dan bergerak aktif. Bahkan saat tidak hujan, aliran mata air ke dalam retakan tetap membuat tanah bergerak. Jika hujan turun, kolam air di atas bisa meluap atau merusak bendungan di bawahnya,” ujarnya.

Dwikorita mengimbau warga yang masih menempati kawasan rawan untuk tetap waspada. Rumah dengan bagian yang retak atau ambles sebaiknya segera diperbaiki, karena kerusakan tersebut biasanya memburuk saat musim hujan. Ia juga menekankan agar tim SAR berhati-hati saat melakukan evakuasi dan pencarian korban serta selalu memperhatikan tanda-tanda alam sekitar.

Hingga hari kelima pascabencana, tercatat 934 warga mengungsi, sementara 25 orang masih tertimbun dan belum ditemukan. Selain itu, longsor telah menimbun 48 rumah warga.

Sekitar 70 persen wilayah Banjarnegara berupa pegunungan, sehingga termasuk zona rawan tanah longsor. Warga yang tinggal di perbukitan diimbau meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat musim hujan, guna meminimalkan risiko korban jiwa dan kerusakan lebih lanjut.(des*)