Keindahan Pulau Gede, Riwayatmu Kini

Rembang,fajarharapan.id – Pagi itu, matahari masih enggan muncul. Maklum, Rembang habis diguyur hujan semalam. ”Kalau pagi surut. Nanti siang biasanya ombak besar,” celetuk salah satu pedagang di pantai yang jadi wisata andalan Kabupaten Rembang itu.

Gelombang air laut Pantai Wates, Kaliori, Rembang, masih malu-malu menyapa si pasir putih. Sekitar pukul 09.00 WIB, kondisi pantai memang sedang surut. Tarian ombak baru tampak sekitar 100 meter dari bibir pantai. Kapal-kapal nelayan terlihat kandas.

Di seberang utara sana sudah terlihat Pulau Gede yang seakan melambai. Satu jam kemudian, air laut perlahan menyapa. Ombak mulai bergerak ke dermaga. ”Ayo, saya tak menyiapkan perahunya,” seru Karjali, nelayan yang mengantar wartawan ke Pulau Gede.

Pria berusia 41 tahun itu, berjalan dari pantai menuju perahu yang ia sandarkan sekitar 50 meter dari dermaga. Perlahan dia menarik kendaraan air sepanjang 7 meter tersebut. Sekitar pukul 10.15 kami mulai berangkat.

Pulau Gede yang jaraknya sekitar 4,5 km dari Pantai Wates. Semakin siang, ombak semakin tinggi. Perahu seakan terbang dan melayang menerjang ombak di laut.

”Ini lumayan besar (ombaknya),” kata Karjali sembari mengatur kemudi. Perahu yang ia stir diarahkan agak menyerong. Tujuannya, tak bertubrukan langsung dengan ombak. Meski demikian, perahu tetap bergoyang.

Sekira 30 menit perjalanan, sampailah di Pulau Gede. Mendekati tepian, ombak berangsur melandai. Dari atas perahu sudah terlihat kerusakan-kerusakan akibat abrasi. Pohon-pohon bertumbangan, pantai kerowok, dan karang-karang mati tersebar di mana-mana.

Baca Juga  Reuni Emas "Rasa Yang Sama di 50 Tahun SMADA" Rembang

Karjali memarkirkan perahu di tepi pulau tak berpenghuni itu. Dia memilih lokasi di dekat hamparan pasir. Panjangnya sekira 200 meter. Dulu, pohon-pohon di Pulau Gede tumbuh di sekitar hamparan pasir itu. Namun sekarang sudah gundul. Perlahan tergerus abrasi.

”Sekarang tinggal pasir. Sebelum kena abrasi rindang seperti hutan. Ada pohon cemara, waru, kelapa, bahkan pete juga ada,” ujarnya.

Sekilas, jika melihat Pulau Gede berbentuk lonjong. Sekarang pepohonan tinggal berada di area utara. Itupun tak berdiri semuanya. Pohon-pohon yang ada di pinggir sudah roboh. Tanah pulau tampak tergerus. Membentuk seperti tebing. Tingginya sekira satu meter.

Sampai sekira 150 meter, pasir-pasir putih sudah berubah menghitam, karena tumpukan batu-batu dan terumbu karang yang terseret sampai tepi. Teksturnya kebanyakan lancip. Jika berjalan tak menggunakan alas kaki akan terasa sakit.

Penampakan serupa juga ada di bagian barat. Di sini terdapat bambu-bambu yang ditata menjadi bangku. Namun, kondisinya rusak dan tak terawat. Di sekitarnya sampah-sampah berserakan.

Jika sedang tidak musim kemarau, tempat ini menjadi primadona bagi kawula muda untuk nge-camp. Atau bisa juga dijadikan spot bagi mancing mania. ”Hampir setiap hari saya ngantar orang mancing. Kalau wisatawan jarang,” katanya lagi.

Penampakan Pulau Gede berubah sejak sekira 10 tahun terakhir. Diawali dari sebelah barat, yang perlahan terkikis. Di sekira Pulau Gede, dulu juga ada pulau lain. Namanya Pulau Marongan. Namun, sekarang sudah hilang.

Baca Juga  Syawalan, Pedagang Selongsong Ketupat Pasar Rembang Raup Cuan

”Saya dulu teringat Pulau Marongan seperti Pulau Gede. Tapi lebih luas Pulau Gede. Mulai hilang sekira 1997,” bilangnya.

Saat ini, para nelayan setempat ikut menjaga Pulau Gede. Bersama pengelola Pantai Wates ikut membersihkan sampah. Jika ada wisatawan camping juga ikut berpartisipasi membersihkan. Membawa kantong untuk tempat sampah. Kemudian sampah dibawa ke darat.

Sementara itu Jovid, salah satu pengelola wisata Pantai Wates mengaku sudah pernah berkomunikasi bersama dinas terkait untuk meminta saran. Agar wisata Pulau Gede bisa dikembangkan. Namun, belum bisa dilaksanakan secara maksimal. Sebab, ada ketentuan yang mengatur tentang kewenangannya.

”Aturannya kan kewenangan provinsi. Jadi, kalau kesana (Pulau Gede, Red) pengelola sini (Pantai Wates, Red) cuma bisa menanam untuk penghijauan,” kata Jovid.

Ia bersama pengelola lain juga sempat membangun gazebo di sana. Namun sekarang rusak, kemungkinan ulah pengunjung yang tak bertanggung jawab. ”Ayolah, gimana caranya bisa ikut menjaga di sana (Pulau Gede, Red).

Padahal, bagi dia, Pulau Gede memiliki segudang potensi pariwisata. Seperti pemandangan sunrise dan sunsite. ”Sunset terlihat di Gunung Muria, sunrise dari balik Gunung Argopuro Lasem. Jarang ada tempat seperti itu,” imbuhnya.(romadi/putra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *