Pemerintah Izinkan Perusahaan China Bangun Pabrik Semen di Aceh, Tiga Pabrik Semen yang Ada di Sumatera Terancam Tutup

Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI), Lilik Unggul Raharjo
Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI), Lilik Unggul Raharjo

Padang, fajarharapan.id Pemerintah Indonesia memberi izin perusahaan raksasa China bangun pabrik semen di Sumatera. Tepatnya di Kecamatan Pasie Raja dan Kluet Utara Kabupaten Aceh Selatan. Izin pembangunan pabrik baru ini membawa kecemasan bagi perusahaan semen yang ada di Indonesia, terutama bagi pabrik semen yang ada di sumatera.

Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI), Lilik Unggul Raharjo, menyebutkan saat ini di Sumatera ada tiga pabrik semen yang sedang berjalan. Di Aceh ada pabrik semen BUMN, PT Solusi Bangun Andalas (SBA), dengan produksi 1,8 juta ton/ tahun. Kemudian ada PT Semen Padang di Sumbar dengan kapasitas 8 juta ton dan PT Semen Baturaja di Sumsel, 2,5 juta ton. Tambah Semen Padang di Dumai yang produksinya tidak besar. Belum lagi semen dari pabrik swasta nasional yang merambah Sumatera.

“Pertama yang akan mati pabrik milik BUMN di Provinsi Aceh Darussalam. ini dipastikan akan gulung tikar,” ujar Lilik. Pasalnya saat ini industri semen dalam negeri, terbentur pasar lesu. Oversupply 55 juta ton dan terancam membatu.

Data dari ASI menunjukkan, pabrik-pabrik semen di Sumatera memproduksi 17 juta ton lebih pada 2023, pasar di sana hanya mampu menyerap 14 juta ton. Tak terjual sekitar 2,9 juta ton. Jika kemudian ada pabrik baru di Aceh, maka produksi di Sumatera akan melonjak tajam, setidaknya 6 juta ton dan menggerus pasar semen nasional milik BUMN.

Sebagaimana diberitakan di berbagai media, Pemkab Aceh Selatan menandatangani Memorandum off Understanding (MoU), untuk pendirian pabrik semen berproduksi 6 juta ton/tahun. Nilai investasinya sebesar Rp.10 triliun oleh PT. Kobexindo Cement, sebuah perusahaan konsorsium dari Hongshi Holding Group di Jakarta, Sabtu (18/5/2024). MoU ditandatangani Pj Bupati Aceh Selatan Cut Syazalisma. Perusahaan raksasa dari Cina ini, memakai teknologi baru, efisien dan tenaga kerja minimal, berbanding terbalik dengan pabrik-pabrik milik negara.

Baca Juga  Studi Mengungkap Kunyit Dapat Menghindari Serangan Kanker Ganas

Peristiwa ini dianggap bertolak belakang dengan moratorium, mengingat di dalam negeri produksi semen melimpah ruah. Menurut Lilik, saat ini terjadi over supply semen, kebutuhan dalam negeri, 65,5 juta ton sementara produksi 119,9 juta ton. Berlebih 54,4 juta ton.

“Padahal pemerintah sudah membuat moratorim, tidak ada lagi izin untuk pabrik baru, kecuali untuk daerah Papua dan Maluku,” kata Lilik Unggul Raharjo.

Industri semen dikategorikan resiko menengah tinggi sehingga, kata Lilik, dalam mengajukan perizinan berusaha berbasis risiko dan agar kegiatan industri menjadi legal harus mengajukan via OSS dan SIINas dengan output atau keluaran NIB (Nomor Induk Berusaha) berlaku efektif dan Sertifikat Standar.

“Adapun Kementerian Perindustrian akan melakukan verifikasi teknis kepada industri PMA sebelum izin dimaksud dapat diterbitkan.”katanya.

Hal-hal lain, dalam mengajukan kewajiban maupun fasilitasi seperti Sertifikasi SNI wajib, TKDN, insentif keringanan fiskal, dan lainnya. Perusahaan wajib memiliki izin yang telah berlaku efektif (NIB dan Sertifikat Standar).

“Dengan demikian, jika PT Kobexindo Cement atau Hongshi tetap membangun pabrik semen di Aceh tanpa mengajukam permohonan perizinan via OSS, maka kedepannya akan kesulitan dalam mengajukan persyaratan berusaha yang diwajibkan sebagai contoh sertifikat SNI dan produk yang dihasilkan akan menjadi tidak legal yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku,” kata Lilik.

Baca Juga  Gubernur Sebut Generasi Qur'ani Perlu Disiapkan Bukan Hanya Diharapkan.

PT. Kobexindo Cement merupakan bagian dari Hongshi Holding Group beralamat di Kota Lanxi Provinsi Zhejiang China. Semen dan polisilikon sebagai dua produk utama yang dihasilkan oleh perusahaan semen terbesar ketiga di China itu. Perusahaan ini memiliki lebih dari 60 pabrik semen yang tersebar di 12 provinsi di China, Indonesia, Laos dan Nepal.

Sebagai perwakilannya di Kabupaten Aceh Selatan, perusahaan ini membentuk anak perusahaan bernama PT. Kotafajar Semen Indonesia. Pabrik semen ini memiliki mesin sangat modern dan canggih. Sistem pengolahan material batu kapur/gamping untuk memproduksi semen tidak menghasilkan limbah dan sampah karena mesin pabriknya dapat membakar habis semua ampas material yang tersisa.

Kapasitas produksi pabrik semen yang berada di Desa Pulo ie ll dan Ujung Padang Asahan, Kecamatan Pasie Raja serta Desa Pulo dan Pasie Kuala Asahan, Kecamatan Kluet Utara itu 6 juta ton semen per tahun dengan investasi Rp10 triliun lebih dan akan menyerap tenaga kerja lokal 1000 orang lebih dengan estimasi 4 tahun lebih masa konstruksinya. Diperkirakan di tahun 2028 pembangunannya baru akan berproduksi secara fungsional. (Kaz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *