Petani Merugi Puluhan Miliar Akibat Banjir di Sungai Penuh, Dampak Tragis yang Harus Segera Diatasi

Sungai Penuh, FajarHarapan.id – Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kota Sungai Penuh Armen melalui Pelaksana Tugas Kabid Prasarana, Sarana dan Penyuluhan (PSP) Salmi, merilis data jumlah sawah terendam di delapan kecamatan dalam Kota Sungai yaitu luas tanaman terkena banjir 1,222 Ha, luas tanaman terkena puso 916, 68 Ha.

Sawah terendam terbesar di Kecamatan Hamparan Rawang 410 Ha terendam, Puso 393 Ha, Tanah Kampung 356 Ha terendam, 221 Ha puso, Kumun Debai 198 Ha terendam, 176 Ha puso, disusul Pondok Tinggi 150 Ha terendam, 105 Ha puso, Koto Baru 33 Ha terendam, 8 Ha puso, Pesisir Bukit 30 Ha terendam, 5 Ha puso, Sungai Penuh 20 Ha terendam, 2 Ha puso.

Namun, di tengah keprihatinan ini, cerita pahit dialami salah satu petani terdampak seperti Rahman di Kecamatan Sungai Penuh. Harapannya untuk memanfaatkan panen padi sebagai penopang ekonomi keluarga dan biaya pendidikan anak-anaknya sirna karena padi yang akan dipanennya terendam sepenuhnya.

Baca Juga  Gubernur Al Haris Fasilitasi Penandatanganan MoU TPA dan SPAM Regional antara Sungai Penuh dan Kerinci

Rahman menyebutkan jika jumlah tanaman padi terkena puso sesuai data yang dikeluarkan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan diestimasikan ke rupiah nilainya cukup.besar, sebutnya Jumat, 2 Februari 2024.

Ia menghitung 1 Ha menghasil padi kering panen 6 ton, sedangkan tanaman terkena puso 916, 68 Ha, jadi diperkirakan 5.500 ton padi puso, harga terendah gabah kering giling kondisi sekarang Rp. 9.000/kilo atau Rp.100.000/kaleng.

Baca Juga  Demi Memeriahkan Ramadhan, Pemuda Hamparan Rawang Gelar Festival Anak Sholeh Indonesia

“Dari perhitungan sementara itu kerugian yang dialami petani di delapan kecamatan sebesar Rp 60 Milyar lebih. Kami berharap pemerintah segera mengambil langkah agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi,” sebutnya.

Tokoh Masyarakat Sungai Penuh, Aswardi Datuk mendesak pemerintah daerah untuk segera menemukan solusi konkret terkait normalisasi Sungai Batang Bungkal dan Sungai Batang Merao.

“Kelalaian pemerintah ini menjadi penyebab kegagalan panen, pemerintah harus segera memberikan dukungan berupa bibit kepada petani dan mengganti kerugian yang mereka alami,” tegasnya.

Sebagian sawah saat ini terendam dan tidak dapat ditanami karena telah berubah fungsi menjadi danau buatan yang digunakan sebagai tempat pemancingan. (al)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *