Semangat Petani Milenial, Dintanpan Rembang Mengajak Beralih ke Pupuk Organik

Rembang,fajarharapan.id -Sebagai petani muda, ia merasa memiliki tanggung jawab besar terhadap kelangsungan kejayaan petani di negara agraris ini. Ia memiliki mimpi, selain keyakinan profesi petani bakal membawa mereka sejahtera, juga menjanjikan masa depan yang cerah, termasuk petani penggarap.

Kepala Dintanpan Kabupaten Rembang Agus Iwan Haswanto mengatakan
ingin memulai mengubah sistem tanam pertanian dengan memulai dari hal dasar, yaitu pemupukan. Ketergantungan begitu lama para petani terhadap pupuk kimia dan sintetis menjadi masalah yang ingin diselesaikan, setidaknya di tempat ia bertani.

Petani untuk beralih ke pupuk organik selama terakhir ini di wilayah Kabupaten Rembang, menurut Agus, petani milenial tersebut dapat mengurai permasalahan mengapa petani konvensional pada umumnya enggan beralih menggunakan pupuk organik dalam budi daya padi, meskipun pupuk tersebut juga sudah memiliki standar, SNI (Standar Nasional Indonesia),” terang Agus Iwan saat ditemui wartawan di ruangannya, Kamis ( 22/2/2024)

Agus Menambahkan pola pikir individu petani penggarap belumlah organik. Petani penggarap adalah petani yang mengerjakan lahan milik orang lain dengan sistem paro (bagi hasil, umumnya 50:50 dengan pemilik lahan) dengan biaya produksi dibebankan kepada petani. Berpuluh-puluh tahun petani penggarap “dimanjakan” dengan penggunaan pupuk kimia sintetis untuk menghasilkan produktivitas panen berlebih.

Baca Juga  Sejarah Peringatan Hari Ibu 22 Desember

Maka, sulit mengembalikan pola pikir petani penggarap untuk meninggalkan kerja-kerja instan tersebut dalam budi daya. “Jika pola pikir tersebut bisa diubah maka penggunaan pupuk organik yang menjanjikan kelangsungan produksi dan mutu padi bisa diterapkan,” ungkapnya

Godaan produktivitas tinggi dengan cara instan tetap menggiurkan atas manfaat fungsi dari pupuk non organik. Akan tetapi, sulit rasanya menimpakan seluruh kesalahan kepada petani penggarap karena mereka memiliki kewajiban bagi hasil dengan pemilik sawah saat panen tiba. Hal ini yang kerap menjadi polemik pengaruh harga pupuk atas hasil panen pertanian yang terjadi.

Kendati mengubah pola pikir yang menjadi dasar tindakan itu tidak mudah, Agus Iwan tetap memiliki semangat dan keyakinan bahwa suatu saat pupuk organik bakal menjadi pilihan utama petani dan penggarap karena langkanya pupuk subsidi

“Dalam jangka menengah-panjang, penggunaan pupuk organik bakal memberi keuntungan bagi petani dengan harga jual komoditas yang lebih tinggi,” ujarnya

Hari-hari ini, di tengah situasi resesi ekonomi di beberapa negara yang mengalami kenaikan angka inflasi cukup tinggi, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian mengimbau setiap pemerintah daerah agar memperkuat ketahanan pangan melalui program intensifikasi lahan IP 400, langkah antisipatif sektor ketahanan pangan untuk mengamankan negara dari ancaman disrupsi global.

Baca Juga  Alun - alun Rembang Akhir Tahun, Prioritas Pejalan Kaki

Dalam cetak biru yang dianjurkan untuk merealisasikan program ini, Pemerintah mengeluarkan benih padi transgenik dengan masa tanam pendek (70-HST) dan menganjurkan penggunaan pupuk organik dan pupuk kimia sintetis berimbang. “Namun, sulit rasanya mendapati para petani kita menjalani program tersebut sesuai petunjuknya,” ujar Agus.

Pupuk organik digunakan dalam upaya mengatasi persoalan pemerolehan pupuk subsidi yang terbatas, disamping itu pupuk organik atau sintetis akan memiliki dampak masing-masing. Meskipun menggunakan pupuk organik, ia juga menjelaskan pentingnya adanya standardisasi mengenai penggunaan pupuk, agar pemanfaatan pupuknya lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Ia menyatakan lebih nyaman menggunakan pupuk organik dalam mengolah lahan padi karena ingin mendapatkan hasil kualitas terbaik. Standar tersebut didapatkan dari proses teknologi IMR (innoculan microba rydhozfer) dari hasil penelitian Batan (Badan Tenaga Atom Nasional),” pungkasnya.(romadi/putra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *