Mapattungul Selatan Luluh Lantak Dihantam Banjir dan Tanah Longsor, Pemkab Berupaya Pulihkan Akses Transportasi

Bupati Sabar AS bersama Forkopimda meninjau Kecamatan Mapattunggul Selatan yang luluhlantak dihantam banjir dan longsor, kemarin.(ist)
Bupati Sabar AS bersama Forkopimda meninjau Kecamatan Mapattunggul Selatan yang luluhlantak dihantam banjir dan longsor, kemarin.(ist)

Pasaman, fajarharapan.id – Kecamatan Mapattungul Selatan (Matuse) di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang dan tanah longsor. Ratusan penduduk terpaksa mengungsi, beberapa kampung terisolasi, dan infrastruktur jalan serta jembatan mengalami kerusakan serius, bahkan sebagian hancur tertimbun oleh longsoran tanah.

Bupati Pasaman, Sabar AS, menyatakan kejadian ini sebagai luar biasa dan mendesak untuk memulihkan akses jalan guna mendistribusikan pasokan pangan ke daerah yang terdampak secepat mungkin. Bupati Sabar AS bersama petinggi daerah lainnya melakukan tinjauan di beberapa titik terparah bersama Kapolres Yudho Huntoro, Dandim Putra Negara, dan Kajari Sobeng Suradal, serta didampingi Plh. Sekda dan Kepala OPD teknis Pemkab Pasaman.

Tempat-tempat pengungsian, seperti sekolah dan gedung pemerintahan di Matuse, juga turut menjadi perhatian Bupati Sabar AS. Keluhan pengungsi terkait bahan makanan, obat-obatan, dan peralatan dapur langsung diakomodir dengan mendistribusikan bantuan berupa 1 ton beras dari Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) Pasaman, ditambah dengan beras dari CPP pemerintah pusat yang disalurkan melalui PT Pos Indonesia. Bupati Sabar AS juga menyampaikan bahwa alat memasak dan kebutuhan mendesak pengungsi lainnya juga telah disalurkan.

Data yang dihimpun di lapangan menunjukkan bahwa pengungsi berasal dari Kampung Aia Cancang Nagari Silayang (211 jiwa/60 KK) dan Kampung Baru Nagari Muaro Sungai Lolo (450 jiwa/100 KK), keduanya dilaporkan mengalami dampak serius akibat banjir bandang, tanah longsor, dan tanah bergerak yang terjadi pada Selasa malam pekan lalu.

Baca Juga  Masa Jabatan Sisa Dua Tahun Lagi, Duet Benny - Sabar Bertekad Berikan yang Lebih Baik untuk Pasaman

Bupati Sabar AS menegaskan bahwa meskipun tidak dapat memulihkan infrastruktur yang rusak secara menyeluruh dalam waktu singkat, upaya maksimal akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar yang mendesak. Sejumlah alat berat telah dikerahkan untuk membuka akses jalan, sementara bantuan beras akan dikirim ulang setelah data warga terdampak diperoleh dari jorong dan walinagari setempat.

Kunjungan unsur pimpinan daerah Pasaman ke daerah terdampak bencana ini tidak mencakup seluruh wilayah, mengingat akses jalan terputus dan medan yang sulit. Camat Mapattunggul Selatan, Abu Bakar, menyatakan bahwa bencana yang terjadi pada malam Selasa (26/12/23) sangat mengerikan.

Kampung Aia Cancang mengalami dua bencana sekaligus, yaitu banjir bandang dari Sungai Batang Silayang dan tanah longsor. Kampung Baru juga mengalami tanah bergerak dan longsoran tebing. Kini, kampung yang dihuni sekitar 450 warga harus dikosongkan karena dianggap berbahaya dan berpotensi amblas ke jurang.

Beberapa tebing perbukitan di banyak lokasi mengalami longsor, dan beberapa anak sungai yang biasanya kecil kini menjadi sungai besar dengan aliran air deras. Nagari Sungai Lolo, termasuk beberapa jorong seperti Rotan Gotah, Tombang, Patamuan, Muaro, dan Jorong Sungai Lolo, kini terisolasi. Akses menuju wilayah itu hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki melewati hutan di perbukitan yang terjal.

Camat Mapattunggul Selatan, Abu Bakar, menambahkan bahwa kendaraan hanya bisa sampai di Kampung Hulu Layang, tidak dapat dilanjutkan ke Nagari Muaro Sungai Lolo karena putusnya dua unit jembatan dan lima unit gorong-gorong serta tertimbun tanah longsor. Akibatnya, biaya angkut per-unit menggunakan sepeda motor mencapai Rp.80 ribu di titik longsor Hulu Layang.

Baca Juga  Wabup Sabar AS Sebut Sedang Disiapkan Bonjol Menjadi Kawasan Wisata Terpadu di Pasaman

Hermol, Kepala Jorong Patamuan, menyampaikan keprihatinan lebih lanjut tentang kondisi masyarakat di daerahnya. Harga beras telah melonjak menjadi Rp.290 ribu per karung (10 kg) karena transportasi sungai, yang biasa digunakan warga, tidak lagi dapat dilalui akibat aliran yang deras dan besar. Hermol menuturkan bahwa beras sekarang harus diangkut dengan tenaga manusia melalui hutan dengan jarak puluhan kilometer.

Pemkab Pasaman berkomitmen untuk terus berupaya membantu masyarakat yang terdampak bencana ini, meskipun proses pemulihan memerlukan waktu dan usaha yang signifikan. Keberlanjutan bantuan dan koordinasi dengan berbagai pihak diharapkan dapat memberikan dukungan maksimal kepada warga yang membutuhkan dalam menghadapi krisis ini. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *