PVMBG Masih Kaji Rencana Penurunan Status Siaga Gunung Karangetang

 

Gunung Api Karangetang.



Manado– Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang, Yudia P Tatipang memastikan penurunan status siaga ke waspada gunung tersebut masih dikaji Pusat Vulkanologi, dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Aktivitas gunung tersebut saat ini tidak ada lagi guguran lava.

“Kemarin kami sudah mengusulkan untuk penurunan status dari siaga ke waspada level II,” ujar Yudia di Manado, Rabu (12/4/2023).

Hingga saat ini, kata dia, aktivitas vulkanik salah satu gunung api aktif di Sulawesi Utara, setelah Gunung Soputan di Kabupaten Minahasa Tenggara dan Gunung Lokon di Kota Tomohon, relatif menurun,sebagaimana dikutip iNews.id.

Baca Juga  Banjir Sambas 10.885 KK Terdampak, BPBD Bersama Tim Gabungan Salurkan Bantuan Logistik

Hal itu, lanjutnya, diindikasikan mulai tidak tampak lagi adanya guguran lava pijar dari puncak kawah maupun guguran lava di ujung leleran lava, relatif turunnya aktivitas ini terjadi pada 28 Maret 2023.

Begitu juga dari sisi rekaman gempa vulkanik yang relatif menuju ke intensitas normal, dimana dalam sehari hanya terekam satu kali gempa dibandingkan beberapa waktu sebelumnya. “PVMBG Badan Geologi nantinya memberikan keputusan apakah status Gunung Karangetang diturunkan ke level II waspada setelah hari raya Idul Fitri,” ujar Yudia.

PVMBG, menurut dia, terus berharap warga yang bermukim di sekitar Gunung Karangetang tetap waspada, apalagi hingga saat ini statusnya belum diturunkan ke waspada, karena potensi terjadi peningkatan aktivitas masih memungkinkan.

Baca Juga  Cuti Bersama Berubah, Menko PMK: Antisipasi Lonjakan Pemudik

“Mudah-mudahan aktivitasnya terus menurun, kami tetap mengharapkan masyarakat jangan dulu naik ke tubuh gunung api agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya. Gunung Karangetang erupsi efusif pada 8 Februari 2023, setelah mengalami peningkatan aktivitas vulkanik, PVMBG kemudian menaikkan statusnya dari waspada ke siaga level III. Dampak dari aktivitas tersebut, warga di beberapa desa/kelurahan sempat diungsikan, karena khawatir terjadi awan panas guguran sewaktu-waktu.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *