Proyek Drainase Medan: Warga Protes Akibat Air Bersih Terhenti

Drainase
Proyek drainase Pemko Medan sebabkan pasokan air terputus di Jalan Pasundan, Kelurahan Petisah Timur II, Kecamatan Medan Petisah.

Medan – Ratusan warga di Jalan Pasundan, Kelurahan Petisah Timur II, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, menggelar protes terhadap proyek pembangunan drainase yang sedang berlangsung. Mereka bahkan mengancam akan menghentikan paksa pengerjaan proyek tersebut. Protes ini muncul karena dugaan bahwa proyek drainase telah menghentikan pasokan air bersih ke rumah-rumah warga.

Kondisi ini terjadi karena pipa air bersih yang menghubungkan rumah-rumah warga terputus akibat pengerjaan proyek drainase tersebut dan sudah berlangsung selama 8 hari terakhir. Para warga terpaksa harus membeli air galon untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti memasak, mandi, mencuci, dan kebutuhan lainnya.

Setiap galon air yang dibeli warga menelan biaya sekitar Rp5.000, dan kebutuhan per hari bisa mencapai 15 galon. Rini, seorang warga, mengungkapkan, “Kami mengeluarkan uang sekitar Rp75.000 per hari untuk membeli air bersih. Biasanya tidak ada masalah dengan pasokan air di sini, tapi sekarang sama sekali tidak ada air.”

Warga sebelumnya telah menyampaikan protes mereka melalui perangkat kelurahan terkait ketiadaan air bersih. Namun, hingga saat ini, mereka belum mendapatkan jawaban pasti mengenai kapan air bersih akan kembali mengalir. Aparat kelurahan, perusahaan daerah penyedia air bersih, dan pekerja proyek tampaknya belum memberikan solusi yang memadai.

Baca Juga  Irsal Terpilih Pimpin SPP UPms I Hingga Tiga Tahun Kedepan

Warga sebenarnya tidak keberatan jika pasokan air bersih dihentikan sementara pada jam-jam tertentu akibat dampak pembangunan drainase. Namun, mereka menginginkan kepastian mengenai berapa lama pasokan air akan dihentikan, dan juga mendapatkan informasi mengenai jadwal pemadaman air sehingga mereka dapat mempersiapkan diri saat air tidak mengalir.

Rini menyatakan, “Kami merasa ini sudah tidak masuk akal, makanya kami berkumpul dengan warga lain dan memutuskan untuk menyampaikan protes secara terbuka untuk meminta proyek drainase ini dihentikan sementara jika malam ini air tidak mengalir. Warga akan menghalangi kelanjutan pembangunan ini.”

Selain mengganggu aktivitas sehari-hari warga, pemadaman air akibat proyek drainase juga telah memaksa salah satu sekolah di wilayah tersebut untuk menghentikan kegiatan belajar mengajar. Hal ini dikarenakan kondisi sekolah, mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Pertama, menjadi berlumpur dan licin. Dalam situasi ini, tidak ada air yang bisa digunakan untuk membersihkan sekolah.

Baca Juga  Kekeringan Ancam Ketersediaan Air Bersih di Gunungkidul

Suyanto, penjaga sekolah tersebut, mengungkapkan, “Sudah hampir satu minggu ini, sekitar 200 siswa kami di Yayasan Budiman harus belajar dari rumah, seperti yang terjadi saat pandemi sebelumnya. Karena sejak pembangunan jalan ini dimulai, warga meminta izin untuk memarkirkan kendaraan di sekolah kami. Akibatnya, sekolah kami menjadi penuh dengan lumpur dan licin.”

“Namun, untuk membersihkannya tidak ada air. Kami mendukung agar proyek pembangunan ini dihentikan jika malam ini air masih belum mengalir,” tambahnya. (des)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *