Komnas HAM Sampaikan Tiga Catatan Penting Setahun Tragedi Kanjuruhan

Kanjuruhan
Kanjuruhan

Jakarta – Satu tahun telah berlalu sejak Tragedi Kanjuruhan yang mengguncang dunia sepak bola Indonesia, dan putusan sidang telah ditetapkan. Dalam refleksi satu tahun pasca-tragedi tersebut, Komnas HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia) menyampaikan tiga catatan penting terkait peristiwa tersebut.

“Dalam proses penegakan hukum, Komnas HAM menemukan bahwa fakta kejadian di Pintu 13 Stadion Kanjuruhan belum diungkap secara mendalam,” demikian bunyi pernyataan resmi yang diterima MNC Portal Indonesia pada Jumat (6/10/2023).

Fakta yang berhasil diungkap oleh Komnas HAM adalah penggunaan gas air mata yang ditembakkan ke tribun 13, yang pada gilirannya memicu kepanikan di antara para penonton. Kepanikan tersebut kemudian mengakibatkan penumpukan di Pintu 13 stadion, dengan para penonton berdesakan untuk keluar dalam kondisi mata yang perih dan dada sesak.

Baca Juga  Tragedi di Ajang Balap Road Race: Pembalap Meninggal Dunia dalam Kecelakaan di Bukittinggi

“Komnas HAM juga menyoroti belum tuntasnya pemenuhan berkas tersangka mantan Direktur PT LIB, Ahmad Hadian Lukita, terkait adanya perbedaan pendapat antara pihak kejaksaan dan kepolisian terkait pemenuhan unsur pasal yang disangkakan kepada tersangka,” ungkap pernyataan tersebut.

Terakhir, Komnas HAM juga menggarisbawahi persoalan dalam pemulihan korban Tragedi Kanjuruhan. Putusan pengadilan tidak mengatur atau menegaskan tanggung jawab pelaku dalam hal restitusi atau rehabilitasi korban.

“Selain itu, layanan dan bantuan untuk pemulihan korban belum merata dan cenderung tidak tepat sasaran,” tambahnya.

Tragedi Kanjuruhan, yang terjadi dalam pertandingan sepak bola antara Arema FC dan Persebaya Surabaya pada 1 Oktober 2022, adalah peristiwa paling tragis dalam sejarah sepak bola Indonesia. Insiden tersebut menewaskan 135 orang dan melukai lebih dari 500 orang. Tragedi ini juga menjadi salah satu insiden dengan jumlah korban jiwa terbanyak dalam sejarah sepak bola dunia, hanya kalah dari tragedi di Peru pada 24 Mei 1964.(dj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *