Pembangunan Tol Padang – Pekanbaru Menghabiskan Biaya Rp9 Triliun

Tol Padang
ilustrasi

Padang – Proyek pembangunan tol Padang – Pekanbaru saat ini menjadi topik pembicaraan karena anggaran yang dikeluarkan mencapai Rp9 Triliun.

Proyek tol Padang – Pekanbaru ini menjadi salah satu yang paling penting dalam pembangunan jalan sepanjang 254,8 kilometer, menghubungkan Padang ke Bukittinggi hingga Pekanbaru.

Pembangunan terowongan yang melintasi Bukit Barisan ini merupakan terowongan tol pertama di Indonesia dan menjadi terowongan terpanjang.

Proyek ini dilakukan oleh PT. Hutama Karya dengan melibatkan 1.000 pekerja dan lebih dari 500 alat berat yang bekerja siang dan malam tanpa hari libur. Dengan demikian, proyek ini diharapkan dapat selesai pada akhir tahun 2023.

Pada awalnya, proyek ini mengalami kendala yang rumit terkait pembebasan lahan, sehingga pembangunan jalan tol terhambat.

Namun, saat ini perkembangan pembebasan lahan sudah mencapai 95 persen dan sebagian telah masuk dalam konsinyasi.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Audy Joinaldy, yang berada di lokasi bersama dengan Project Director Hutama Karya, Sri Hastuti Hardiningsih, Ketua Tim Percepatan Tol Padang – Pekanbaru Syafrizal Ucok Datuak Nan Batuah, serta Kepala Dinas Kominfo Sumbar, Siti Aisyah, tidak hanya optimis bahwa pembangunan akan selesai sesuai rencana, tetapi juga melihat nilai tambahan dari jalan tol ini.

Baca Juga  Kerajaan Majapahit : Pusat Perdagangan Terbesar di Nusantara

“Tanpa berlebihan, saya yakin tol Padang – Pekanbaru ini akan menjadi tol yang paling indah di Sumatera. Kita dapat melihat keindahan sepanjang jalan ini. Menurut saya, tidak ada jalan tol di daerah lain yang seindah jalan tol kita ini,” ujar Audy pada saat itu, seperti dikutip pada Rabu, 19 Juli 2023.

Untuk pembangunan seksi Pangkalan-Payakumbuh di tol Padang – Pekanbaru, kontraktor Japan International Cooperation Agency (JICA) akan bertanggung jawab, sehingga investasi sebesar Rp80,41 Triliun telah direalisasikan dengan pembangunan sebesar Rp45,99 Triliun.

Proses pembangunan tol Padang – Pekanbaru ini menggunakan dua metode, yaitu Metode New Austrian Tunneling Method (NATM) dan Metode Tunneling Boring Machine (TBM), yang juga telah diterapkan dalam pembangunan Moda Raya Terpadu (MRT) di Jakarta.

Menurut Badan Pengelola Jalan Tol, NATM adalah metode modern dalam pembangunan terowongan karena menggunakan desain dan konstruksi yang canggih untuk mengoptimalkan berbagai teknik penguatan dinding berdasarkan jenis batuan yang ditemui saat pembuatan terowongan di daerah pegunungan.

Indonesia memiliki pengalaman dalam pembangunan terowongan, seperti yang terlihat dalam pembangunan Bendungan Temef di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, pada tahun 2018 menggunakan saluran pengelak.

Pengerjaan proyek ini mengalami hambatan karena adanya penolakan dari warga di lima nagari terkait pembebasan lahan di Kabupaten Lima Puluh Kota. Namun, pada awal tahun 2023, terjadi titik temu sehingga warga setempat mendukung proyek jalan tol yang diharapkan akan meningkatkan konektivitas di Sumatera.

Baca Juga  Hadiri Pengukuhan IKP-PBR Pekanbaru, Wabup Sabar AS Minta Perkuat Kolaborasi Ranah-Rantau

Terkait hal ini, Lukman Edy, Wakil Komisaris Utama PT. Hutama Karya, saat kunjungannya ke Sumatera Barat beberapa waktu lalu, menyatakan bahwa pembebasan lahan di lima nagari di Kabupaten Lima Puluh Kota masih belum selesai.

Namun, PT. Hutama Karya sebagai pengembang proyek jalan tol Padang – Pekanbaru siap untuk melaksanakan proyek ini baik dari segi teknis maupun keuangan.

“Namun, jika dalam penggalian terowongan ditemukan kandungan mineral, maka akan menjadi milik perusahaan Hutama Karya,” ungkap Lukman Edy.(des)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *