Kolak, Nikmat Lezat tapi Perlu Waspada bagi Penderita Diabetes dan Obesitas

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta – Meskipun lezat, konsumsi kolak harus diatur dengan baik terutama bagi kelompok yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Siapa yang harus membatasi konsumsi kolak?

Kolak kini hadir dengan beragam variasi, seperti kolak ubi, kolak candil, kolak kolang-kaling, dan lainnya.

Isiannya mengandung karbohidrat kompleks seperti pisang, ubi, dan kolang-kaling yang sulit diserap tubuh.

Kuahnya yang terbuat dari santan dan gula adalah sumber kalori tertinggi dalam kolak.

Oleh karena itu, disarankan bagi penderita obesitas dan diabetes untuk menghindari konsumsi kolak.

“Dianjurkan bagi penderita obesitas dan diabetes tipe 2 untuk menghindari kolak karena kandungan kalorinya yang tinggi,” kata dokter gizi Johannes Casay Chandrawinata kepada CNNIndonesia.com.

Baca Juga  Dampak Diabetes, Pria Penjual Kopi di Terminal Lama Purwodadi Mencoba Bunuh Diri

Mengurangi jumlah kuah saat makan kolak disarankan karena kelebihan santan dapat meningkatkan kolesterol jahat dan asam lambung.

Kolak juga sebaiknya dihindari oleh mereka yang memiliki masalah trigliserida dan asam urat tinggi, serta penderita obesitas.

“Dalam tubuh yang sudah memiliki banyak lemak, tambahan konsumsi kolak tanpa aktivitas fisik akan meningkatkan penumpukan lemak,” kata dokter gizi Inge Permadhi.

Oleh karena itu, penting untuk mengatur pola makan dan beraktivitas selama bulan puasa, termasuk rutin berolahraga, untuk menjaga kesehatan.

Baca Juga  Inovasi Dapur, Telur Ayam Bacem, Alternatif Lezat dari Olahan Tradisional

Jadi, siapa yang perlu membatasi konsumsi kolak? Mereka adalah penderita diabetes, obesitas, masalah trigliserida, dan asam urat tinggi.(des)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *