Kotim  

Pabrik Pengolahan Limbah Medis Bakal Beroperasi di Sampit, Diharapkan Berkontribusikan terhadap Pendapatan Asli Daerah

H. Halikinnor
H. Halikinnor

Sampit – Pembangunan pabrik pengolahan limbah medis pertama di Kalimantan Tengah yang sedang berlangsung di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, semakin mendekati tahap penyelesaian.

Bupati Halikinnor mengungkapkan harapannya agar pabrik ini dapat beroperasi sesuai rencana dan rampung pada akhir tahun ini. Halikinnor menyoroti pentingnya pabrik limbah medis ini dalam menangani permasalahan limbah medis yang semakin meningkat di provinsi ini.

Selain itu, diharapkan pabrik ini juga dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan pendapatan asli daerah Kabupaten Kotawaringin Timur.

Dalam acara penandatanganan perjanjian kerja sama fasilitasi pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) medis di Kotawaringin Timur antara BUMD PT Hapakat Betang Mandiri dan PT Bumiresik Nusantara Raya.

Halikinnor menyampaikan urgensi pengelolaan yang benar terhadap limbah medis B3 seperti masker bekas, sarung tangan bekas, perban bekas, plastik bekas minuman dan makanan, cotton bud swab, alat suntik bekas, set infus bekas, alat pelindung diri bekas, sisa makanan pasien, dan lainnya. Pengelolaan yang tepat dan efisien sangat penting untuk mencegah dampak buruk bagi masyarakat.

Dalam kerja sama ini, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur berkolaborasi dengan PT Bumiresik untuk pengelolaan limbah medis dan nonmedis di wilayah tersebut. Tujuan utama dari kerja sama ini adalah untuk mengurangi beban keuangan dalam pembiayaan limbah medis di rumah sakit dan sekaligus meningkatkan pendapatan daerah melalui pengelolaan limbah medis dan B3 yang ada di Kotawaringin Timur serta daerah lain di Provinsi Kalimantan Tengah.

Baca Juga  Meriahkan Porprov Kalteng 2023, Bupati Kotim Ajak Seluruh Masyarakat dan Dunia Usaha Turut Berpartisipasi

Halikinnor mengungkapkan bahwa selama ini biaya penanganan limbah medis di rumah sakit dan puskesmas di Kotawaringin Timur mencapai sekitar Rp2 miliar. Dengan adanya pabrik pengolahan limbah medis ini, diharapkan anggaran pengelolaan limbah medis dapat ditekan, sekaligus meningkatkan pendapatan daerah.

Selain mengatasi limbah medis, pembangunan pabrik ini juga diharapkan mampu mengolah limbah nonmedis. Hal ini akan menjadi solusi bagi masalah penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir yang berlokasi dekat dengan pabrik.

Dalam hal ini, Halikinnor berharap PT Hapakat Betang Mandiri dan PT Bumiresik dapat mewujudkan pengolahan limbah nonmedis di Kabupaten Kotawaringin Timur. Hal ini tidak hanya akan membantu menangani masalah limbah di daerah tersebut, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan asli daerah.

Direktur PT Bumi Resik Nusantara Raya, Djaka Winarso, menyampaikan bahwa pengolahan limbah medis di Kalimantan Tengah, termasuk di Kotawaringin Timur, saat ini masih menghadapi kendala karena harus dikirim ke luar provinsi, yang memakan waktu dan biaya yang tinggi. Potensi limbah medis dari rumah sakit dan puskesmas milik pemerintah daerah sendiri saja mencapai 6 hingga 12 ton per hari, belum termasuk limbah medis dari sektor swasta dan potensi lainnya.

Baca Juga  Bupati Kotim Membuat Siti Menangis Haru Saat Menerima Kursi Roda

Oleh karena itu, tahap awal pembangunan pabrik ini akan dimulai dengan kapasitas produksi tiga hingga enam ton per hari, dan di tahap selanjutnya akan meningkat menjadi 12 ton per hari. Djaka Winarso menyatakan komitmennya untuk terus memantau perkembangan pabrik ini guna menjaga kualitas pengelolaan limbah medis yang optimal.

Dengan adanya pembangunan pabrik pengolahan limbah medis ini, diharapkan penanganan limbah medis di Kalimantan Tengah dapat menjadi lebih efektif dan efisien. Selain itu, hal ini juga akan membawa dampak positif bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.(audy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *