Korban Terus Berjatuhan, Konflik Hamas dan Israel Belum Ada Tanda Berakhir

Warga Gaza dihantam bom Israel. (dok.reuters/stringer/cnnindonesia)
Warga Gaza dihantam bom Israel. (dok.reuters/stringer/cnnindonesia)

Jakarta – Eskalasi perang antara kelompok Hamas di Palestina dan Israel terus meningkat, dengan korban jiwa dan luka-luka yang terus bertambah, termasuk di antara warga sipil.

Penduduk di Gaza melaporkan ketakutan mereka akibat pengeboman yang menargetkan bangunan tempat tinggal, rumah sakit, dan sekolah di seluruh wilayah ini. Terdapat kekhawatiran serius terkait kerusakan infrastruktur sipil akibat pengepungan yang diumumkan oleh Israel.

Dilansir dari Al Jazeera, lebih dari 1.000 orang di Israel dan setidaknya 921 orang Palestina telah tewas dengan lebih dari 4.600 lainnya mengalami luka-luka sejak serangan Hamas dimulai pada Sabtu (7/10/2023) yang diikuti oleh serangan balasan Israel. Jumlah korban ini diperkirakan akan terus meningkat.

Nidal Hamdouna, seorang pekerja kemanusiaan dari organisasi Norwegia-Denmark Church Aid yang lahir di Gaza, telah menjadi saksi banyak konflik kemanusiaan selama beberapa tahun. Menurutnya, situasi saat ini adalah eskalasi paling serius yang pernah dia hadapi.

“Kami menghadapi serangan udara intensif dan penembakan yang menargetkan berbagai lokasi di Jalur Gaza, termasuk di lingkungan saya,” ungkapnya. “Tidak ada tempat yang aman di Gaza saat ini, dan seluruh keluarga kami terkena dampak. Kekhawatiran utama adalah keselamatan warga sipil dan kesulitan menemukan tempat yang aman, meskipun tempat seperti itu sulit ditemukan.”

Baca Juga  Israel Terus Gempur Gaza, Air dan Listrik Rumah Sakit Indonesia Mati Total

Sebuah LSM di Mesir melaporkan bahwa satu-satunya perbatasan Gaza dengan Mesir, satu-satunya jalur keluar yang tidak dikendalikan oleh Israel, telah mengalami serangan udara oleh Israel dalam tiga kali dalam 24 jam.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa lebih dari 200.000 orang telah mengungsi di Gaza, dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat. Serangan udara telah meratakan 790 unit rumah dan merusak 5.330 unit rumah.

Meningkatnya jumlah korban luka berisiko menimbulkan tekanan besar pada sistem layanan kesehatan Gaza yang telah lemah setelah 16 tahun mengalami blokade oleh otoritas Israel, yang membatasi masuknya orang, bahan bakar, bahan bangunan, dan makanan.

Mahmoud Shalabi dari organisasi bantuan Medical Aid for Palestinians melaporkan bahwa rumah sakit Beit Hanoun di utara Gaza telah tidak berfungsi karena kerusakan tambahan akibat pengeboman di sekitarnya. Rumah sakit terbesar di Gaza, Al Shifa, juga mengalami kerusakan, terutama pada unit neonatal dan fasilitas trauma.

Baca Juga  Gaza, IDF Rugi 4 Personel dalam Bentrokan Sengit

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyatakan keprihatinannya atas laporan yang meningkat terkait serangan udara dan penembakan Israel yang mengenai infrastruktur sipil. Guterres menegaskan pentingnya mematuhi hukum kemanusiaan internasional dan melindungi warga sipil serta infrastruktur sipil.

Situasi ini semakin rumit dengan pernyataan yang menegaskan ketegangan antara kedua belah pihak. Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant menyatakan bahwa tidak akan ada bahan pokok yang diizinkan masuk ke Gaza setelah serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya oleh militan Hamas ke Israel.

Pejuang Hamas dan Jihad Islam Palestina juga menyandera warga Israel, menambah kerumitan konflik ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan masyarakat internasional mendesak untuk mengakhiri kekerasan dan menemukan jalan keluar dari konflik ini yang telah berlangsung lama.(des)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *