Solsel, fajarharapan.id — Petani di Kabupaten Solok Selatan bisa rugi, sebab harga komoditi jagung kering di daerah itu semakin turun sesuai Idul Adha 1445.
Meski harga jatuh, namun tidak ada toke yang datang bernegosiasi harga dengan petani. Hal ini terjadi dalam Minggu ini.
“Kalau biasanya usai jagung di rontok, sudah berdatangan toke untuk negosiasi harga. Sekarang hanya berjanji akan datang, tapi tak tiba-tiba,” kata Indria pertanian jagung di Sangir, Jumat (21/6).
Seminggu sebelum hari raya Idul Adha, harga jagung ayam kering di Solok Selatan dari Rp5.000 perkilogram turun seharga Rp4.400 perkilonya. Sekarang sudah turun lagu seharga Rp3.800 perkilo.
Kalau kondisi harga mahal banyak datang toke jagung dimana petani memanen jagung, saat ini hanya lewat saja dan ketika dihubungi via handphone cuman jawab sebentar lagi, malam nanti, besok lagi. Tapi tak datang-datang.
“Kalau jagung mahal, toke banyak berdatangan. Kalau murah, toke jual mahal. Bisa saja mereka khawatir ketika dibeli seharga saat ini, takut turun lagi,” bebernya.
Jika harga jagung dibawah Rp4 ribu sekilo, petani jagung alami kerugian. Selain dihadapkan pupuk mahal, juga sulit didapatkan. Petani ketika pupuk datang hanya mendapatkan 1 sak ponska dan satu urea. Itu yang pakai kartu, kalau tidak ada kartu mereka beli pupuk lebih mahal.
Selain harga pupuk, mulai biaya pembersihan lahan, upah tanam, penyemprotan rumput khusus saat jagung berusia 18 hari dengan peptisida.
“Belum lagi upah angkut, upah mengelupas kulit jagung, dan upah rontok. Kalau biasanya panen dan harga dibawah Rp4 ribu, maka pasti saja petani alami kerugian,” jelasnya.
Toke Jagung Kering, Ujang menyebut bahwa harga komoditi jagung diperkirakan akan terus alami penurunan. Sebab itu, pedagang ragu-ragu membeli. Kecuali jumlahnya banyak bisa langsung di antarkan ke Payakumbuh, Lintau, Sijunjung, Kabupaten Kerinci dan lainnya.
“Memang kondisi harga mengalami penurunan. Dua hari usai Idul Adha masih Rp4 ribu, sekarang Rp3.800. bisa saja akan terus turun. Kabarnya pasokan jagung datang dari luar Sumbar sehingga memicu jatuhnya harga jagung di daerah ini,” jelasnya.
Harga jagung turun dari Rp6.500 sekilo kini tembus Rp3.800. Artinya hampir 50 persen penurunan harga terjadi.
“Kondisi ini memang dikeluhkan petani jagung dan kami toke harus nyaring telinga untuk beli jagung kering. Takut dibeli ke petani kemudian sehari kemudian jagung jatuh lagi harganya. Sebab itu tak toke jagung takut-takut nego jagung kering petani,” tutupnya. (SDW)







